Berita

Beranda Berita Dirjen Bina Marga Resmikan Dua Jembatan Gantung di Jateng
Beranda Berita Dirjen Bina Marga Resmikan Dua Jembatan Gantung di Jateng

Dirjen Bina Marga Resmikan Dua Jembatan Gantung di Jateng

  •  20 Mar 2022
  • Berita/Umum
  • 248 viewed
Dirjen Bina Marga Resmikan Dua Jembatan Gantung di Jateng
Foto: Dirjen Bina Marga Resmikan Dua Jembatan Gantung di Jateng

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga, Hedy Rahadian meresmian dua infrastruktur untuk membantu mobilitas barang dan jasa di tingkat pedesaan di Provinsi Jawa Tengah pada Sabtu (19/03). Dua Infrastruktur tersebut ialah  Jembatan Gantung (JG) Pagergunung yang terletak di Desa Pagergunung,Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung dan Jembatan Banyusidi di Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang. 

 

Turut hadir dalam peresmian tersebut anggota Komisi V DPR RI, Sujadi, Bupati Temanggung, Muhammad Al Khadziq serta Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah - Daerah Istimewa Yogyakarta, Wida Nurfaida.

 

Hedy Rahadian mengatakan bahwa pihaknya membangun Jembatan Gantung bertipe Simetris ini pada Juni hingga Desember 2021 dan membutuhakan anggaran sebesar Rp. 2,5 Miliar. Jembatan Pagergunung ini memiiki bentang 60 Meter dengan lebar 1,8 Meter sehingga dari spesifikasi tersebut, jembatan ini khusus diperuntukan bagi pejalan kaki dan kendaraan roda dua. namun berdasarkan papan petunjuk safety yang dipasang  di kedua sisi jembatan, dalam keadaan darurat, kendaraan roda empat, seperti Ambulans boleh melintas.

 

Jembatan kedua yang secara simbolis ikut diresmikan, ialah  Jembatan Gantung Banyusidi, di Kabupaten Magelang. Dari segi biaya, jembatan Banyusidik telah menelan anggaran sebesar Rp. 4,8 Miliar dan dibangun pada Oktober hingga Juni 2021. Jembatan Gantung Rigid ini memiliki panjang bentang 42 meter dengan lebar 1,8 Meter. Menghubungkan dua desa, yaitu Banyusidi dan Surodadi. Jembatan Gantung ini dibangun karena jalur penghubung kedua desa berupa jalan setapak terjal maupun turunan tajam menuju sungai. Warga harus melewati jalan terjal licin serta menyeberangi sungai. Kondisi serupa dijumpai pada lokasi pembangunan JG Pagergunung.

 

Lebih jauh, Hedy menjelaskan bahwa pembangunan dua jembatan gantung ini merupakan bentuk bantuan pemerintah pusat, khususnya Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR, kepada pemerintah daerah. “Kami hanya pelaksana instruksi Presiden Joko Widodo kepada Menteri PUPR, Bapak Basuki Hadimuljono untuk meningkatkan pergerakan produk pertanian, barang, jasa dan orang di tingkat pedesaan,” terang Hedy.

 

Hal itu diamini oleh Sujadi dari Komisi V DPR RI. Menurutnya jembatan gantung ini merupakan bentuk kasih sayang Pemerintah Pusat kepada masyarakat, khususnya di Kabupaten Temanggung. Pada tahun 2017, Presiden Joko Widodo dan Menteri PUPR Basuki telah meresmikan Jembatan Gantung Galeh sepanjang 90 meter yang menghubungkan desa Gandurejo, Kecataman Bulu ke Desa kauman di Kecamatan Parakan. Nama Jembatan tersebut diambil dari nama sungai yang memisahkan kedua desa, yaitu sungai Galeh.

 

Sukarman, Kepala Desa Pagergunung mengatakan sebelum jembatan gantung ini dibangun lalu lintas menuju desa Gandurejo harus melewati lereng Gunung Sumbing sedalam 60 meter.  Sementara akses jalan utama selama ini harus memutar dengan memakan waktu 20-30 menit. Setelah jembatan ini tersambung, waktu tempuh kedua desa terpangkas menjadi 2-3 menit saja. “Ini memudahkan warga yang memiliki lahan pertanian di desa seberang,” ujarnya. Dengan kata lain, jembatan ini sangat membantu dalam kegiatan ekonomi warga, tambah Sukarman. Selain aktfitas pertanian, jembatan ini juga memudahkan warga untuk melakukan silahturahmi dan kegiatan sosial antar desa, seperti mengunjungi sanak saudara.

 

Hedy mengatakan, Ditjen Bina Marga telah membangun lebih dari 300 Jembatan Gantung di seluruh Indonesia. Pada tahun 2021 saja, Bina Marga telah menyelesaikan 66 jembatan Gantung. “Ini sebenarnya bukan tugas utama Pemerintah Pusat (kementerian PUPR-red). Biaya pembangunan jembatan ini menggunakan APBN, bukan APBD Provinsi ataupun Kabupaten,” jelasnya.

 

Setelah persemian hari ini, Hedy akan menyerahkan jembatan gantung ini kepada pemerintah daerah. Maka dari itu ia berpesan agar pemerintah daerah dan warga sekitar untuk ikut menjaga jembatan ini. “Kami menitipkan jembatan gantung ini dan yang lain yang sudah dibangun agar dipelihara dan betul -betul dimanfaatkan dengan baik. Karena secara teknis, jembatan gantung ini di desain bisa bertahan selama 100 tahun,” pungkasnya. Hedy membuka pintu bagi Dinas PU Kabupaten Temanggung jika memerlukan bantuan teknis perihal perawatan dan pemeliharaan jembatan gantung ini. “Nanti Balai (BBPJN Jateng-DIY) atau Direktorat Jembatan siap membantu,” tambahnya. (ian)