Berita

Beranda Berita Progres Penanganan Infrastruktur Permanen Pascabencana di Sumatera Barat saat ini mencapai 62%.
Beranda Berita Progres Penanganan Infrastruktur Permanen Pascabencana di Sumatera Barat saat ini mencapai 62%.

Progres Penanganan Infrastruktur Permanen Pascabencana di Sumatera Barat saat ini mencapai 62%.

  •  20 Apr 2026
  • Berita/Umum
  • 351 viewed
Foto: Progres Penanganan Infrastruktur Permanen Pascabencana di Sumatera Barat saat ini mencapai 62%.

Sumatera Barat, – Penanganan permanen pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di ruas Padang Panjang – Sicincin (Kawasan Lembah Anai) terus dipercepat oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat (Sumbar) Direktorat Jenderal Bina Marga. Hingga saat ini, progres penanganan telah mencapai sekitar 62% dan ditargetkan selesai pada akhir Juli 2026, dengan capaian yang lebih cepat sekitar 20 persen dari rencana awal. Hal tersebut diungapkan Kepala BPJN Sumatera Barat Elsa Putra Friandi saat dikonfirmasi melalui seluler pada (17/04/2026).

“Penanganan ini dilakukan untuk memulihkan konektivitas, mendukung aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur jalan dan jembatan terhadap potensi bencana serupa di masa mendatang,” ujar Elsa.

Elsa menjelaskan, pembangunan infrastruktur permanen pascabencana di Sumbar ini di dilakukan pada 19 titik lokasi terdampak di sepanjang segmen KM 61+600 hingga KM 67+400. Mulai dari Bts. Kota Padang Panjang – Sicincin, Jl. Sutan Syahrir (Padang-Panjang) hingga Jembatan Margayasa A dan B.

“Adapun pekerjaan meliputi perbaikan badan jalan, perkuatan lereng, serta penguatan struktur jembatan. Infrastruktur yang dibangun mencakup penggunaan teknologi modern seperti soldier pile, shotcrete, soil nailing, geomat HDPE, serta bronjong baja galvanis, guna memastikan stabilitas struktur di kawasan rawan bencana,” ucap Elsa.

Lebih lanjut, “Infrastruktur yang dibangun dirancang lebih kuat dibanding sebelumnya, salah satunya melalui penerapan teknologi borepile yang terbukti lebih tahan terhadap hantaman banjir bandang dibandingkan yang sebelumnya. Dimana sebagian besar penahan badan jalan dari hantaman arus sungai Batang Anai di Kawasan Lembah Anai berupa penahan alami dan Dinding Penahan tanah  berupa pasangan batu yang efektifitas dan kekuatannya jauh di bawah teknologi borepile dalam menghadapi hantaman arus sungai,” tambah Elsa.

Kepala BPJN Sumbar menceritakan bahwa, pengalaman sebelumnya menggunakan teknologi borepile menunjukkan bahwa titik yang telah ditangani secara permanen pada tahun 2024 terbukti mampu bertahan saat terjadi bencana serupa pada tahun 2025. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan penanganan permanen merupakan solusi efektif dalam menghadapi risiko bencana berulang.

Terkait dukungan pelaksanaan pekerjaan tersebut, Elsa menyebutkan bahwa Ditjen Bina Marga mengalokasikan anggaran sekitar Rp.490 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), yang saat ini masih dalam proses pendampingan dan audit.

Elsa menambahkan, penanganan pascabencana ini tidak hanya terbatas pada infrastruktur kewenangan pemerintah pusat, tetapi juga dilakukan secara terpadu melalui koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan pemulihan berjalan menyeluruh dan memberikan manfaat yang lebih luas.

“Selama proses konstruksi, berbagai strategi diterapkan untuk menghadapi tantangan cuaca ekstrem, seperti penyesuaian jadwal kerja berdasarkan prakiraan cuaca, perlindungan material, serta penguatan aspek keselamatan kerja di lapangan,” kata Elsa.

Ia berharap, dengan pemulihan infrastruktur secara permanen, diharapkan aktivitas distribusi logistik, mobilitas masyarakat, serta sektor ekonomi dapat kembali berjalan optimal dan lebih efisien. Selain itu, pembangunan ini juga menjadi langkah mitigasi jangka panjang.

Meski menghadapi tantangan berupa kondisi geografis yang berada di tepi aliran sungai serta tingginya curah hujan, BPJN Sumatera Barat tetap berupaya menjaga kelancaran lalu lintas. Ruas jalan strategis penghubung Padang – Bukittinggi – Pekanbaru saat ini telah dapat dilalui selama 24 jam, sembari tetap dilakukan percepatan pekerjaan di lapangan.

“Melalui penanganan ini, BPJN Sumatera Barat menegaskan komitmennya untuk menghadirkan infrastruktur yang tidak hanya pulih, tetapi juga lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan, guna mendukung keselamatan dan kesejahteraan masyarakat,” harap Elsa (fqn/wln)