Indonesia dan Republik Korea Perkuat Kerja Sama Penanganan Bencana Infrastruktur Jalan dan Jembatan melalui Road Conference ke-21
- 30 Juli 2026
- Berita/Umum
- 120 viewed
Jakarta – Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum, bersama Pemerintah Republik Korea melalui Ministry of Land, Infrastructure and Transport (MOLIT) menyelenggarakan The 21st Indonesia–Korea Road Conference dengan tema “Road Disaster Management and Recovery Technique” pada Rabu–Kamis (29–30/7/2026) di Jakarta.
Konferensi tersebut menjadi wadah bagi Indonesia dan Republik Korea untuk bertukar pengetahuan, pengalaman, dan teknologi dalam penanganan bencana pada infrastruktur jalan dan jembatan, peningkatan keselamatan jalan, serta pengembangan sistem transportasi cerdas.
Direktur Jenderal Bina Marga, Roy Rizali Anwar, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Republik Korea atas komitmen dan dukungan yang selama ini diberikan kepada Pemerintah Indonesia melalui berbagai program kerja sama di bidang infrastruktur jalan.
Menurut Roy, penyelenggaraan The 21st Indonesia–Korea Road Conference merupakan momentum penting untuk semakin memperkuat kolaborasi kedua negara dalam menghadapi berbagai tantangan, khususnya dampak perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana terhadap infrastruktur jalan dan jembatan.
“Forum ini bukan sekadar agenda pertemuan tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kepercayaan, bertukar pengetahuan dan teknologi, serta merumuskan bentuk kerja sama yang semakin konkret,” ujar Roy.
Kerja sama Indonesia dan Republik Korea di bidang jalan telah diwujudkan melalui berbagai program, baik dalam bentuk hibah, pinjaman, kajian teknis, maupun pengembangan sistem. Saat ini, Direktorat Jenderal Bina Marga tengah melaksanakan dua kegiatan hibah, yaitu The Project for Establishment of the Freeway Traffic Management System in Indonesia dengan dukungan Korea International Cooperation Agency (KOICA), serta The Establishment of Digital Road Pavement Quality Management System and Green Road Technology in Indonesia yang didukung oleh MOLIT Republik Korea.
Sementara itu, Director of Privately Invested Roads Republik Korea, Lee Sang Ok, menyampaikan bahwa Indonesia dan Republik Korea telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1973. Hubungan tersebut terus berkembang melalui kerja sama di berbagai sektor, termasuk pembangunan infrastruktur.
“Melalui konferensi ini, Republik Korea berharap pengalaman dan teknologi yang kami miliki dapat memberikan manfaat bagi pengembangan teknologi penanganan bencana dan peningkatan keselamatan jalan di Indonesia,” tutur Lee Sang Ok.
Selama dua hari pelaksanaan konferensi, delegasi Indonesia dan Republik Korea membahas berbagai isu strategis, antara lain penanganan bencana pada infrastruktur jalan dan jembatan akibat perubahan iklim, manajemen kebencanaan, pembangunan dan pengelolaan jalan, serta penerapan berbagai teknologi inovatif.
Pembahasan juga mencakup penerapan teknologi pemantauan jembatan bentang panjang secara real-time di Republik Korea, pemanfaatan teknologi digital dalam pemeliharaan lereng jalan, pengembangan sistem transportasi cerdas, serta pengelolaan aset jalan tol berbasis data.
Sebagai bagian dari rangkaian konferensi, delegasi Republik Korea melaksanakan technical visit/kunjungan teknis ke Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) dan Proyek Jalan Tol Harbour Road II.
Dalam kunjungan ke JMTC, delegasi memperoleh penjelasan mengenai penerapan sistem manajemen lalu lintas berbasis teknologi yang mampu memantau dan menganalisis kondisi lalu lintas secara real-time. Sistem tersebut digunakan untuk mendukung peningkatan keselamatan, kelancaran lalu lintas, dan kualitas pelayanan kepada pengguna jalan tol.
Delegasi selanjutnya meninjau perkembangan pembangunan Jalan Tol Harbour Road II sepanjang 9,2 kilometer. Jalan tol tersebut direncanakan menjadi bagian dari jaringan konektivitas yang menghubungkan kawasan Pelabuhan Tanjung Priok dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Melalui penyelenggaraan The 21st Indonesia–Korea Road Conference, kedua negara berharap hasil diskusi dan pertukaran pengetahuan yang telah dilaksanakan dapat menjadi landasan untuk memperkuat kerja sama pada masa mendatang. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung terwujudnya infrastruktur jalan dan jembatan yang semakin aman, tangguh terhadap bencana, berkelanjutan, dan berbasis teknologi. (dit)