Berita

Beranda Berita Permudah Aksesibilitas Warga Pedesaan, Ditjen Bina Marga Bangun Tiga Jembatan Gantung di Jawa Tengah
Beranda Berita Permudah Aksesibilitas Warga Pedesaan, Ditjen Bina Marga Bangun Tiga Jembatan Gantung di Jawa Tengah

Permudah Aksesibilitas Warga Pedesaan, Ditjen Bina Marga Bangun Tiga Jembatan Gantung di Jawa Tengah

  •  22 Juli 2021
  • Berita/Umum
  • 71 viewed
Permudah Aksesibilitas Warga Pedesaan, Ditjen Bina Marga Bangun Tiga Jembatan Gantung di Jawa Tengah
Foto: Permudah Aksesibilitas Warga Pedesaan, Ditjen Bina Marga Bangun Tiga Jembatan Gantung di Jawa Tengah

Untuk memperlancar aksesibilitas warga di pedesaan, Direktorat Jenderal Bina Marga tengah menyelesaikan pembangunan tiga buah jembatan gantung di Provinsi Jawa Tengah. Ketiga jembatan gantung tersebut tergabung dalam paket pekerjaan pembangunan Jembatan Gantung Pager Gunung CS.

 

“Paket pekerjaan pembangunan Jembatan Gantung Pager Gunung CS dimulai pada Juni 2021 dan ditargetkan selesai pada November 2021. Terdapat tiga buah jembatan gantung yang akan dibangun yakni Jembatan Gantung Pager Gunung di Kabupaten Temanggung panjangnya 60 meter, Jembatan Gantung Karangwotan di Kabupaten Pati panjangnya 60 meter, dan Jembatan Gantung Bongpis di Kabupaten Jepara yang paling panjang, 96 meter,” jelas Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.6 Provinsi Jawa Tengah, Arif Agus Styawan.

 

Sebagai informasi, ketiga buah jembatan gantung memiliki jenis pondasi yang berbeda, karena menyesuaikan dengan kondisi di lapangan.  Untuk Jembatan Gantung Pager Gunung menggunakan pondasi pasangan batu, sementara Karangwotan menggunakan beton siklop, dan Bongpis menggunakan tiang pancang spun pile.

 

Walau pembangunan jembatan gantung pejalan kaki relatif tidak memerlukan metode teknis yang rumit karena kerangka jembatan merupakan fabrikasi, namun karena lokasinya yang terpencil menyebabkan tantangan tersendiri dalam memobilisasi alat berat.

 

“Untuk Bongpis di Jepara aksesnya lebih mudah, lokasinya tidak terlalu jauh dari jalan raya. Tapi akses mobilisasi alat dan materialnya sulit, karena jalan kabupaten jadi ada beberapa titik yang tidak memungkinkan untuk dilalui oleh alat berat. Sementara kalau Pager Gunung harus buka lahan dulu, eksisting jalan benar-benar masih tanah, persawahan. Jadi kita buka dan lebarkan untuk mobilisasi alat,” tambah Arif.

 

Menurut Arif, di ketiga lokasi tersebut sudah memiliki jembatan gantung namun terbuat dari kayu yang kondisinya sudah tidak layak dan berbahaya. Demi keamanan warga yang melintas, maka Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah – D.I. Yogyakarta membangun jembatan gantung baru di sebelah jembatan lama. Jembatan baru yang sedang dibangun ini didesain untuk dapat dilalui oleh pejalan kaki maupun kendaraan bermotor roda dua.

 

“Dengan adanya pandemi saat ini, pekerjaan di lapangan tetap berjalan karena termasuk dalam sektor kritikal. Tapi tentunya dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat, salah satunya tim lapangan gak boleh keluar dari wilayah dan berinteraksi dengan banyak orang, masuk ke lokasi harus bawa surat antigen. Kalau sudah masuk tidak boleh berinteraksi dengan warga luar, jadi tetap menjaga agar tidak ada yang terpapar,” ujarnya.

 

Sebagai bentuk dukungan terhadap program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dampak pandemi Covid-19, paket pekerjaan pembangunan Jembatan Gantung Pager Gunung CS untuk melibatkan masyarakat sekitar untuk program padat karya.

 

“Di masing-masing lokasi kita libatkan warga sekitar untuk pekerjaan padat karya yang tidak memerlukan keterampilan khusus seperti pemasangan batu untuk jalan pendekat kanan-kiri serta drainase,” pungkas Arif. (Gir)