Berita

Beranda Berita Melewati Sesar Aktif Opak, Jembatan Kretek 2 Didesain Tahan Gempa
Beranda Berita Melewati Sesar Aktif Opak, Jembatan Kretek 2 Didesain Tahan Gempa

Melewati Sesar Aktif Opak, Jembatan Kretek 2 Didesain Tahan Gempa

  •  24 Mar 2022
  • Berita/Umum
  • 747 viewed
Melewati Sesar Aktif Opak, Jembatan Kretek 2 Didesain Tahan Gempa
Foto: Melewati Sesar Aktif Opak, Jembatan Kretek 2 Didesain Tahan Gempa

BINA MARGA – YOGYAKARTA  Jembatan Kretek 2 di Kabupaten Bantul yang sedang dibangun Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)  memiliki fakta unik lain, yaitu dirancang mampu menahan gempa. Pasalnya tanah lokasi jembatan ini berdiri di aera Sesar Aktif Opak yang memiliki potensi bencana gempa di Provinsi Yogyakarta.

 

Sesar  tersebut adalah patahan aktif di dalam tanah yang membentang di tengah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sesar ini bergerak secara aktif sehingga kerap kali menyebabkan terjadinya gempa yang mengguncang Yogyakarta. Mengutip kalderanews.com, baru-baru ini Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melaksanakan survei geologi di beberapa titik, yaitu Kalidadap, Goa Cerme, Lenteng Satu, Kedungrejo, Kedung Tolok, dan Sungai Kaliurang. Implikasi dari kerawanan ini adalah bangunan rumah tinggal, gedung, dan infrastruktur jalan terutama jembatan di sekitar Sesar Aktif Opak sebaiknya mengindahkan desain tahan gempa.

 

Kondisi ini diamini oleh PPK Pembangunan Jembatan Kretek 2, Julian Situmorang ketika ditemui di Parangtritirs, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.  Ia menjelaskan, jembatan yang dibangun dengan dana pinjaman Islamic Development Bank sebesar Rp. 364 Miliar Rupiah ini telah didesain untuk mampu menahan gempa.  pihaknya juga telah berkoordinasi dengan sejumlah geologis untuk melakukan studi guna mengonfirmasi lokasi dan lebar Sesar Aktif Opak di lokasi pembangunan Jembatan Kretek 2. Setelah melakukan survey paleoseismologi, Julian dan tim ahli berhasil menentukan titik mitigasi keberadaan Sesar Aktif Opak tersebut. “Jadi kita membuat trenching untuk melihat benar-benar, dimana posisi Sesar Opak. Berapa lebarnya sehingga bisa kita lakukan mitigasi,” jelas Julian.

 

Julian mengatakan bahwa di Indonesia belum ada code atau panduan soal berapa jarak aman untuk mendirikan bangunan di daerah sesar. “Kami harus mencari referensi dari negara lain dan akhirnya kita temukan bahwa jarak aman adalah 20 meter dari posisi sesar. Maka disitulah kita memasang abutemen, “ jelasnya.

 

Di sepanjang posisi sesar sepanjang 20 meter tersebut, bagian oprit dibuat dengan kolom-kolom yang disebut Mechanical Stabilizer Earth (MSE) Wall. ”MSE WALL dirancang sebagai titik sacrifice bila terjadi pergerakan sesar, “ terang Julian. MSE WALL berfungsi melokalisir kerusakan akibat gempa agar tidak merambat ke struktur jembatan secara keseluruhan sehingga bisa memudahkan proses perbaikan bangunan jembatan dikemudian hari.

 

Tidak hanya itu, analisa tanah turut menemukan potensi liquifaksi tanah jika terjadi gempa. Julian mengatasi masalah ini dengan melakukan penggantian tanah (soil replacement) di lokasi yang berpotensi liquifaksi. Kedua, menganalisa daya tahan pileslab atau tiang pancang apabila terjadi liquifaksi. Mengutip dari laman itb.ac.id, liquifaksi atau “tanah bergerak sendiri” kerap terjadi di tanah yang jenuh air sehingga pada saat gempa, perubahan material padat tanah sedimen seakan berubah karakternya seperti cairan. Kejadian liquifikasi tanah pernah muncul pada bencana gempa bumi di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tenggara tahun 2018 silam.

 

Jembatan bertipe I-Girder ini juga dilengkapi Lead Rubber Bearing (LRB) yang didesain khusus untuk menahan guncangan gempa. I Nyoman Kardita, Manager Konstruksi, Wika Hutama JO, kontraktor pembangunan Jembatan Kretek 2, mengatakan ukuran LRB lebih besar daripada Bearing Pad yang dipasang pada jembatan pada umumnya. Akibat pemasangan LRB ini membuat ruang pergerakan joint atau pertemuan antara oprit dan jembatan menjadi lebih luas, yaitu 39 cm. Saat terjadi gempa struktur jembatan dan oprit tidak berbenturan dan merusak jembatan. “Kalau pada bearing pad biasa paling 4 centimeter saja,“ ujar pria asal Bali ini.

 

Sebagai informasi, menurut SE Menteri PUPR No. 10 tahun 2015 tentang Pedoman Perancangan Bantalan Elastomer Untuk Perletakan Jembatan, Bearing pad merupakan salah satu komponen dalam struktur jembatan yang berfungsi sebagai media penyalur beban antara bangunan atas dan bangunan bawah. Dengan kata lain, bearing pad inti dapat memberikan pergerakan pada bagian atas sebagai saat terjadi guncangan.

 

Julian menambahkan, penggunaan LRB sebagai peredam beban gempa membawa keuntungan lain,  yaitu ukuran pondasi jembatan yang tidak terlalu besar. “Pondasi yang tidak terlalu besar jadi menghemat biaya konstruksi,” tutupnya. (ian)