Home Logo

ID EN

KOMISI V DPR TINJAU BEKAS LONGSOR RUAS PENGHUBUNG BANDUNG SUMEDANG


 27 September 2016 |   Berita/Umum |   147

KOMISI V DPR TINJAU BEKAS LONGSOR RUAS PENGHUBUNG BANDUNG SUMEDANG
Foto: KOMISI V DPR TINJAU BEKAS LONGSOR RUAS PENGHUBUNG BANDUNG SUMEDANG

 

 

 

Sumedang (Bina Marga) – Komisi V DPR RI bersama jajaran Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VI melakukan peninjauan bekas lokasi longsoran (27/09) di 6 titik pada Ruas Jalan Jatinangor – Bts. Kota Sumedang Km.Bdg. 36+300; Km.Bdg. 36+350; Km.Bdg. 36+750; Km.Bdg. 37+700; Km.Bdg. 37+780; Km.Bdg. 38+400. Lokasi tebing/lajur dari Bandung ke arah Sumedang terjadinya longsor ini juga dikenal sebagai Cadas Pangeran.

Pada saat yang sama longsor juga terjadi di  3 titik ruas Sumedang – Kadipaten di Km.Bdg 39+570, Km. Bdg 39+925, dan Km.Bdg. 40+300. Di ruas yang berbeda, yaitu, Bandung-Tasikmalaya terjadi longsor sekitar jalan Lingkar Gentong namun hanya sampai menutupi rel kereta.   

“Jadi sepanjang Jatinangor-Sumedang ada 9 titik longsoran sehingga jalan tertutup. Untungnya di daerah Rancakalong Citali masih ada jalan alternatif untuk kendaraan kecil. Sementara untuk kendaraan besar dialihkan (balik) ke Tol Cipali,” ujar Bambang Hartadi, Kepala BBPJN VI.

Curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan longsoran tanah, bebatuan, serta pohon-pohon tumbang dari tebing sehingga menutupi badan jalan (saluran, bahu dan badan jalan). Akibat kejadian ini lalu lintas dari Jatinangor-Sumedang sempat tertutup total dan tidak bisa di lintasi kendaraan.Tidak terdapat korban jiwa baik dari masyarakat penduduk sekitar ataupun masyarakat pengguna jalan tetapi terdapat kerusakan beberapa rumah tinggal yang berada di bawah tebing.

“Jadi bapak bisa bayangkan longsoran tersebut menutup jalur Bandung-Sumedang sempat macet berpuluh kilometer. Kejadiannya terjadi malam, pagi nya sudah dibuka,” ujarnya kepada Komisi V DPR.

Bambang mengatakan setelah kejadian longsor pada Selasa,20 September 2016, pukul 21.15 WIB tersebut, pihaknya langsung berkoordinasi dengan pihak Kepolisian Sumedang, Dinas PU Kabupaten Sumedang, Basarnas dan Perhutani dengan melakukan pembersihan terhadap tanah, bebatuan dan pohon-pohon yang tumbang serta pengamanan lalu lintas. Menurut laporan, pada rabu  (21/09) pagi, materi longsor sudah dibersihkan dan lalu lintas kembali dibuka.

Melihat curah hujan yang tinggi masih mungkin menyebabkan longsoran kembali. Seperti yang longsoran terjadi tanggal 24 september silam, titik KM 36+700, Cadas Pangeran. Bahkan saat peninjauan dilakukan, Bambang menerima laporan kembali terjadi longsoran di lokasi yang sama, yaitu KM. Bdg. 36+700.

“Tadi saya sudah katakan ke Pak Ketua Komisi, kalau kita nekad ke lokasi bisa sampai tengah malam karena jalanan pasti macet,” ujarnya.

Anggota komisi V DPR,Yudi Widiana Adia mengatakan dirinya memang sudah menjadwalkan melihat lokasi longsor di Cadas Pangeran yang tentunya sangat terkait dengan informasi dari BMKG. ”Kita dapat info akan terjadi cuaca hujan sudah dua bulan lalu,” ujar politisi Partai PKS ini. Menurutnya wilayah Cadas Pangeran sudah cukup legenda, wilayah tua maka dari itu salah satu solusinya adalah dengan dibangunnya Tol Cileunyi Sumedang Dawuan (Cisumdawu).

Selain Yudi, anggota Komisi V DPR yang ikut meninjau adalah Hanna Gayatri dari fraksi PAN, Djoni Rolindrawan dari fraksi Hanura, dan Soehartono dari Fraksi Nasdem. “Sementara beberapa anggota lain memilih tinggal di lokasi bencana banjir Garut karena ada tugas dari partai masing-masing,” kata Yudi.

Lebih jauh, meski dipicu oleh curah hujan yang tinggi, Bambang menemukan sebab lain terjadinya longsoran di Cadas Pangeran ini yaitu alih fungsi lahan hutan menjadi pertanian di perbukitan diatas ruas jalan tersebut. Dari foto udara yang ada tampak jelas area tebing yang tadinya ditumbuhi pepohonan sudah berubah menjadi teras-teras tanaman palawija.

Melihat kondisi geoteknik yang bertebing dan berliku, Pembuat Komitmen Bandung – Cileunyi – Jatinangor (PK BCJ) selaku penanggung jawab ruas Cadas Pangeran merencanakan beberapa solusi penanganan jangka pendek dan permanen pada titik-titik longsoran. Adapun penanganan secara sementara ialah pemasangan cerucuk. Sementara secara permanen berupa melakukan perkerasan tebing dengan soil nailing, pemasangan wiremesh, diikuti dengan shootcreet, pemasangan borepile dan pagar penghalang, serta vegetasi ulang. Langkah penanganan yang dilakukan akan disesuaikan dengan kondisi di setiap titik longsorsan. (ian)