Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Tengah - DI Yogyakarta

Jembatan Pandansimo: Inovasi Teknologi dan Kearifan Lokal dalam Konektivitas DIY


Senin, 03/03/2025 00:00:00 WIB |   Berita/Umum |   71

Bantul- Pembangunan Jembatan Pandansimo yang menghubungkan ruas Congot-Ngremang (Kabupaten Kulonprogo) dan Pandansimo-Samas (Kabupaten Bantul) tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan konektivitas, tetapi juga menghadirkan infrastruktur yang efisien dan memiliki daya tahan terhadap potensi bencana gempa. Pembangunan jembatan ini menggunakan teknologi inovatif yang belum banyak diterapkan di Indonesia yaitu Teknologi Corrugated Steel Plate (CSP), Lead Rubber Bearing (LRB) dan Mechanically Stabilized Earth Wall (MSE Wall).

 

Dari segi efisiensi penggunaan CSP yang berbentuk baja bergelombang pada struktur tengah jembatan lebih mudah dipasang sehingga lebih cepat dan dari segi biaya lebih hemat dibandingkan dengan penggunaan struktur beton konvensional.

 

Selain CSP, Jembatan Pandansimo juga menggunakan LRB pada struktur berbahan baja di antara Pile Cap dan Pedestal untuk meredam energi gempa serta meningkatkan fleksibilitas struktur. Dengan adanya LRB, jembatan memiliki ketahanan lebih baik terhadap pergerakan tanah yang sering terjadi di kawasan ini. "Teknologi LRB ini memberikan perlindungan ekstra terhadap jembatan, terutama dalam menghadapi potensi gempa bumi. Dengan sistem ini, kami memastikan keamanan dan ketahanan jangka panjang bagi infrastruktur yang sangat vital ini," ujar PPK 1.4 Provinsi DI Yogyakarta, Setiawan Wibowo (Bowo). 

 

Untuk memastikan stabilitas tanah, digunakan MSE Wall sebagai dinding penahan. Teknologi ini memungkinkan konstruksi dinding yang lebih stabil tanpa membutuhkan area luas. Dengan demikian, tanah di sekitar jembatan tetap terjaga, mengurangi risiko longsor, dan meningkatkan keamanan struktur.

 

Bowo menceritakan salah satu tantangan utama dalam pembangunan jembatan ini adalah kebutuhan pengecoran mortar busa dalam jumlah besar, mencapai sekitar 80.000 m3. Karena metode pengecoran konvensional dengan sistem gravitasi tidak memungkinkan, digunakan sistem pompa peristaltik yang mampu mendistribusikan mortar busa hingga jarak 300 meter. Teknologi ini memastikan penyebaran material lebih merata, mempercepat pengerjaan, serta menjaga kualitas konstruksi. "Sistem pompa peristaltik sangat membantu dalam efisiensi pekerjaan karena memungkinkan distribusi mortar busa secara lebih presisi dan merata, yang menjadi salah satu faktor utama dalam keberhasilan proyek ini," imbuhnya.

 

Dari sisi estetika, Jembatan Pandansimo dirancang dengan konsep Multi-Arch Bridge, menggabungkan CSP dan mortar busa untuk menciptakan struktur yang elegan dan futuristik. Keindahan jembatan ini diperkuat dengan ornamen khas Yogyakarta, seperti ikon gunungan yang merepresentasikan filosofi kehidupan, serta motif sulur keris dan batik nitik yang melambangkan keterbukaan budaya. Gerbang berbentuk joglo juga menjadi elemen khas yang menambah identitas budaya jembatan ini.

 

Dengan berbagai inovasi teknologi dan estetika yang diterapkan, Jembatan Pandansimo bukan sekadar infrastruktur penghubung, tetapi juga menjadi ikon infrastruktur yang mencerminkan kemajuan teknologi sekaligus mempertahankan kearifan lokal. Keberadaannya diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, baik dari aspek fungsional maupun nilai seni dan budaya.