Artikel

Beranda Artikel Penanganan Jembatan Cisomang Tol Cipularang
Beranda Artikel Penanganan Jembatan Cisomang Tol Cipularang

Penanganan Jembatan Cisomang Tol Cipularang

  •  18 Okt 2021
  • Artikel/Artikel
  • 243 viewed
Penanganan Jembatan Cisomang Tol Cipularang
Foto: Penanganan Jembatan Cisomang Tol Cipularang
 Oleh : Efran Kemala Hamonangan

Mendengar nama Jembatan Cisomang Tol Cipularang sudah tidak asing di telinga kita. Mengingat Jembatan Tol Cisomang beberapa waktu ke belakang sempat mengalami kendala, diantaranya longsor, dan pergeseran pada pilar jembatan. Padahal Jembatan Cisomang adalah jembatan vital karena menghubungkan daerah Bandung Barat, Purwakarta, hingga ke arah Cikampek. Jembatan Cisomang pun menjadi pengubung utama arah Bandung ke Jakarta pada ruas Tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta- Padalarang).

Jembatan Cisomang berada pada ruas Jalan Tol Cipularang KM 100+695 – 100+947 Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Jembatan ini terdiri dari 6 pilar penyangga jembatan bertipe portal (beam integral bridges). Secara teknis karakteristik Jembatan Cisomang pada ruas Tol Cipularang dapat terlihat pada tabel 1.

Pada Bulan Desember 2016, jembatan ini diumumkan kepada media bahwa telah terjadi pergerakan terbesar yaitu 57 cm pada pilar ke 2 (P2). Batas maksimum pergerakan pilar pada P2 tersebut adalah sekitar 71,5 cm, sehingga diputuskan kendaraan selain golongan 1 (termasuk bus) dilarang untuk melintasi jembatan tersebut. Permasalahan utama pada jembatan ini ialah pilar – pilarnya berdiri di atas zona kontak antara clay shales (Formasi Jatiluhur/Mdm) dan endapan breksi vulkanik (Hasil Gunungapi Tua/Qob) yang umumnya merupakan zona tidak stabil oleh banyaknya potensi dan sejarah kejadian longsoran.

Selain itu, jenis tanah ini sangat rentan terhadap cuaca sehingga jika terekspos dengan udara maka kekuatan tanahnya menurun drastis. Hal lain yang menambah  permasalahan adalah berada pada sistem sesar naik yang terindikasi khususnya pada batuan-batuan yang relatif tua berumur tersier (65 – 2 juta tahun  yang  lalu). Kerusakan terjadi pada jembatan ini tergolong cukup parah dan didapati setiap pilar mengalami keretakan struktural akibat pergerakan tersebut.

Penanganan Pergesaran Pilar

Permasalahan  pergeseran  pilar  pada  Jembatan Cisomang  ruas  Tol  Cipularang  yang  diduga  kuat akibat longsoran besar terjadi di bawah jembatan, dapat  diatasi  dengan  pengambilan  data  yang menyeluruh  terutama  data  –  data  geoteknik. Selanjutnya,  data  tersebut  dilakukan  analisis dengan metode  back  calculation  (analisis  balik) dengan menggunakan bantuan program komputer berbasis  ?nite  element.  Pengambilan  data  yang dilakukan meliputi :

  1. Pengambilan data tanah dengan metode boring N-SPT sebanyak 12 titik;
  2. Pemantauan  pergerakan  tanah  dengan inklinometer sebanyak 10 titik;
  3. Piezometer untuk mengukur tekanan air tanah sebanyak 3 titik;
  4. Pengecekan  pelapisan  tanah  dengan  Geolistrik sebanyak 4 jalur;
  5. Rebar Scanning pada setiap pilar untuk mengecek tulangan di dalam pilar;
  6. Pengecekan  retakan  pada  setiap  pilar  jembatan; dan
  7. Pengambilan data debit air Sungai Cisomang serta citra udara catchment area untuk analisis hidrologi.

Metode  back  calculation  (analisis  balik) merupakan metode yang digunakan dalam bidang geoteknik  untuk  mencari  parameter  tanah  real sesaat sebelum  pergerakan  tanah  atau  longsoran terjadi.  Parameter  tersebut  juga  akan  digunakan dalam  analisis  perbaikan.  Setelah  data  tanah lengkap diambil lalu dilakukan analisis longsoran dengan  menggunakan  parameter  tanah  yang mengacu  dari  berbagai  penelitian  mengenai  clay shale serta  contoh  kasus  sebelumnya  seperti Longsoran Tol Cipularang KM 96+600 B, Longsoran Tol  Semarang-Solo  KM  31+875  dan  lainnya, sehingga didapatkan  parameter  yang  cocok  untuk kondisi di lokasi ini sebagai berikut :

Berikut  hasil  dari  analisis  bidang  longsor  dengan  metode  analisis  balik  (Faktor  Keamanan  =  1)  dengan memperhitungkan seluruh gaya yang terjadi pada pilar jembatan menggunakan program PLAXIS : 

Dari data Inklinometer didapatkan juga bidang longsor aktual lapangan dengan menarik garis pada setiap titik pergerakan di Inklinometer, sehingga bidang longsor yang didapatkan pada analisis program komputer dan Inklinometer dapat digambarkan sebagai berikut :

Cara Penanganan

Berdasarkan hasil analisis maka penanganan yang dilakukan untuk memperbaiki jembatan ini ialah :

  1. Strutting baja yang menghubungkan antara Pile Cap  P2  dengan  Pile  Cap  P3  berfungsi  sebagai penahan gerakan pada Pilar P2 (kondisi darurat);
  2. Pemasangan  Tiang  Bor  sebanyak  37  buah  dan Pile  Cap  disatukan  dengan  Pile  Cap  P2    dengan diameter  1,2  meter  dengan  kedalaman  50  meter, berfungsi untuk menambah kapasitas daya dukung pondasi P2;
  3. Pemasangan Tiang Bor sebanyak 22 buah antara P1 dan P2 diameter 1,5 meter dengan kedalaman 60  meter,  berfungsi  untuk  memotong  bidang longsor;
  4. Unloading  massa  tanah  pada  sisi  lereng  arah Jakarta untuk mengurangi beban pada lereng;
  5. Grouting retakan pada Pilar dan Kepala Pilar;
  6. Fiber Reinforced Polymer (FRP) pada Pilar dan Kepala Pilar;
  7. Jacketing Beton  pada Pilar P0, P1, P2, dan P5;
  8. Membuat balok Penghubung antara Pile Cap P1 – Pile Cap Tiang Bor D-1,5 – Pile Cap Tiang Bor D-1,2;
  9. Ground Anchore pada Pile Cap P0 dan Pile Cap P1 masing  –  masing  sebanyak  6  buah  per  Pile  Cap sedalam  40  meter  sebagai  tambahan  pekuatan pondasi Pilar eksisting;
  10. Pembuatan bendung dan pengaturan aliran Sungai Cisomang  dengan  membuat  sudetan  untuk mencegah sungai tersebut meluap dan membasahi kaki – kaki pilar disekitarnya;
  11. Melapisi  tanah  di  P2  dan  P3  dengan  shotcrete beton  untuk  mencegah  masuknya  air  kedalam pondasi P2 dan P3.

Untuk  memastikan  tidak  ada  lagi  pergerakan  yang  terjadi,  maka  dilakukan  dua  metode  pemantauan pergerakan  Kembali,  yaitu  melalui  Inklinometer (termasuk  yang  dimasukkan  kedalam  tiang  bor)  dan pemantauan  dengan  Total  Station  dengan  titik  acuan  diambil  pada  pilar.  Berdasarkan pengamatan Inklinometer dan Total Station, pada akhir Bulan Maret 2017 pergerakan sudah tidak terlihat lagi (gra?knya sudah  mendatar),  sehingga diputuskan    pada  1  April  2017  pukul  00.00  Jembatan  Cisomang  resmi  dapat dilewati lagi oleh seluruh kelas kendaraan.

Penutup

Permasalahan  utama  Jembatan  Cisomang  pada ruas  Tol  Cipularang  adalah  pilar  –  pilar  yang berdiri  di  atas  zona  kontak  antara  clay  shales (Formasi  Jatiluhur/Mdm)  dan  endapan  breksi vulkanik  (Hasil  Gunungapi  Tua/Qob)  yang menjadikan zona tanah tidak stabil, selain itu jenis tanah  sangat rentan  terhadap  cuaca  yang mengakibatkan  kekuatan  tanah  dapat  menurun drastis.

Adanya  posisi  pilar-pilar  jembatan  berada  pada sistem sesar naik yang juga menjadikan setiap pilar mengalami keretakan struktural  karena pergerakan tersebut.

Penanganan pergeseran pada Jembatan Cisombang pada  ruas  Tol  Cipularang  menggunakan  Metode Back Calculation dengan penghitungan gaya melalui program  PLAXIS,  yang  selanjutnya  dapat ditentukan  cara  dan  bahan  perbaikan  untuk jembatan tersebut.

Monitoring  menggunakan  Inklinometer  dan  Total Station  dilakukan  untuk  memantau  pergerakan tanah maupun pilar penyangga jembatan, sehingga perbaikan  yang  dilakukan  dapat  mencapai  titik aman ketika ruas jalan tol tersebut digunakan oleh berbagai jenis golongan kendaraan.

 Sumber : BINEKA, Vol. 2 Edisi April 2021