Artikel

Beranda Artikel LAJUR KHUSUS SEPEDA MOTOR ALTERNATIF PENINGKATAN KESELAMATAN MOBILITAS DI JALAN RAYA
Beranda Artikel LAJUR KHUSUS SEPEDA MOTOR ALTERNATIF PENINGKATAN KESELAMATAN MOBILITAS DI JALAN RAYA

LAJUR KHUSUS SEPEDA MOTOR ALTERNATIF PENINGKATAN KESELAMATAN MOBILITAS DI JALAN RAYA

  •  30 Mar 2026
  • Artikel/Artikel
  • 76 viewed
LAJUR KHUSUS SEPEDA MOTOR ALTERNATIF PENINGKATAN KESELAMATAN MOBILITAS DI JALAN RAYA
Foto: LAJUR KHUSUS SEPEDA MOTOR ALTERNATIF PENINGKATAN KESELAMATAN MOBILITAS DI JALAN RAYA

Oleh: Zulaikha Budi Astuti

Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Tengah – DI. Yogyakarta

Sepeda motor masih menjadi andalan mobilitas masyarakat       Indonesia,       namun       sekaligus menempati  posisi  paling  rentan  di  jalan  raya. Data kecelakaan menunjukkan mayoritas insiden melibatkan sepeda motor pada lalu lintas campur, menjadikan mengapa pembangunan lajur khusus sepeda motor menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan keselamatan perjalanan.

 

JARINGAN JALAN NASIONAL PULAU JAWA

Pulau Jawa memiliki jaringan jalan nasional yang membentang dari barat hingga timur,  terdiri dari Jalan Lintas Utara Jawa, Jalan Lintas Tengah Jawa, Jalan Lintas Selatan Jawa dan Jalan Tol Trans Jawa.   Keberadaan jalan – jalan tersebut memberikan kepada masyarakat pilihan prasarana yang lebih efisien, efektif, dan ekonomis untuk mobilitas dan distribusi logistik.

Di Provinsi Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, jaringan jalan nasional meliputi Jalan Lintas Utara, Jalan Lintas Tengah, Jalan Lintas Selatan dan Jalan Pantai Selatan. Selain itu, terdapat pula jalan penghubung lintas yang menghubungkan Jalan Lintas Utara dan Selatan. Hingga kini, pembangunan   jaringan   Jalan   Pantai   Selatan masih berlanjut, dengan proyek terakhir yang tengah diselesaikan pada Jalan Kretek-Girijati dan Jembatan Pandansimo.

Selain  jalan  nasional,  di  Provinsi  Jawa  Tengah dan D.I. Yogyakarta juga telah terbangun jaringan jalan tol yang menjadi bagian dari Jalan Tol Trans Jawa. Beberapa ruas jalan tol sudah beroperasi, seperti Tol Kanci-Pejagan, Tol Pejagan-Pemalang, Tol Pemalang-Batang, Tol Batang-Semarang, Tol Semarang-Solo, Tol Solo-Ngawi, Tol Kartosuro- Prambanan.

Secara umum, jaringan jalan tol dibangun untuk menghubungkan simpul-simpul pertumbuhan ekonomi, serta mendukung konektivitas ke bandara, pelabuhan maupun kawasan ekonomi dan industri.

Selain jalan tol yang telah beroperasi, saat ini masih ada sejumlah ruas yang tengah dibangun. Seperti, Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo segmen Prambanan-Purwomartani-Maguwoharjo dan JC Sleman-Trihanggo, Jalan Tol Yogyakarta- Bawen dan Jalan Tol Semarang-Demak. Hadirnya jalan tol di Pulau Jawa akan semakin melengkapi jaringan Trans Jawa sekaligus memberikan pilihan bagi masyarakat.

 

PERTUMBUHAN KENDARAAN BERMOTOR

Jaringan jalan yang telah terbangun di Pulau Jawa memberi kemudahan mobilisasi bagi masyarakat. Akses transportasi yang semakin lancar diharapkan mampu  mendorong  adanya  pertumbuhan ekonomi wilayah, karena pergerakan orang dan distribusi logistik lebih cepat dan efisien.

Di sisi lain pertumbuhan kendaraan bermotor, khususnya kendaraan pribadi juga terpacu dengan adanya  fasilitas  prasarana  jalan  yang  semakin baik. Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dari tahun   2018   hingga   2023   semakin   meningkat setiap tahunnya sebagaimana ditunjukkan dalam grafik berikut.

Pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi menunjukkan nilai yang cukup signifikan, terutama kepemilikan mobil penumpang dan sepeda motor. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kepemilikan sepeda motor meningkat rata - rata 5% per tahun. Pada tahun 2023, jumlah kepemilikan sepeda motor di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan jumlah sekitar 18 juta unit.

Fenomena ini mengubah pola transportasi masyarakat.   Dahulu,   hirearki   perjalanan dimulai  dari  penggunaan  sepeda  motor  di kawasan permukiman,   kemudian di jalan arteri menggunakan kendaraan umum. Namun, sejak akhir 1990-an, pola tersebut hampir hilang, terutama sejak masuknya kendaraan bermotor dari China dengan harga yang relatif lebih rendah yang pada akhirnya menurunkan harga jual kendaraan roda dua.

Sementara itu, perkembangan transportasi publik berbasis massa justru berjalan tersendat. Layanan yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, sementara biaya transportasi publik terus meningkat setiap tahunnya. Akibatnya pilihan menggunakan angkutan umum semakin berkurang dan moda ini hanya digunakan oleh masyarakat    yang    tidak    memiliki    kendaraan pribadi.

 
TINGKAT KECELAKAAN LALU LINTAS
 

Semakin tingginya jumlah kepemilikan kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil pribadi, maka potensi kejadian kecelakaan lalu lintas juga semakin besar. Nampak dari data kecelakaan lalu lintas di wilayah Jawa Tengah periode tahun 2018 - 2021 menunjukkan tren peningkatan kasus yang cukup signifikan.

Road Safety Manajemen System (IRSMS) Korlantas Polri mencatat sebanyak 79.220 kasus kecelakaan  lalu  lintas  terjadi  hingga  5  Agustus

2024. Angka tersebut menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Bulan April menjadi puncak kecelakaan tertinggi mencapai 11.924 kasus, sedangkan bulan Juni dan Juli menunjukkan sedikit penurunan.

Tingginya angka kecelakaan ini menimbulkan kesan bahwa jalan raya adalah sumber utama masalah. Padahal, faktor yang paling dominan berasal dari meningkatnya jumlah kendaraan. Sejumlah penelitian mencatat bahwa seiring bertambahnya sepeda motor yang beroperasi di jalan raya, risiko kecelakaan pun ikut meningkat.

Pola lalu lintas di Indonesia yang masih bercampur antara sepeda motor dengan kendaraan roda empat atau lebih membuat risiko kecelakaan semakin tinggi. Sepanjang tahun 2024, data dari Integrated Tren fluktuatif ini mencerminkan dinamika lalu lintas yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk peningkatan volume kendaraan hingga pelanggaran aturan lalu lintas.

Dari seluruh kasus, kecelakaan lalu lintas paling banyak terjadi 76,42% melibatkan sepeda motor atau sekitar 552.155 unit. Secara keseluruhan, tercatat 722.470 kendaraan terlibat dalam berbagai insiden sepanjang tahun, mempertegas posisi sepeda motor sebagai kelompok pengguna jalan yang paling rentan.

 

LAJUR KHUSUS SEPEDA MOTOR

Lalu lintas di jalan raya yang masih bercampur antara kendaraan bermotor roda empat, sepeda motor, kendaraan tak bermotor, serta kendaraan besar  dan berat berpotensi tinggi  menimbulkan kecelakaan. Perbedaan ukuran dan kecepatan kendaraan sering kali berujung pada tumbukan dan benturan satu sama lain. Di antara beberapa penyebab kecelakaan, kondisi lajur lalu lintas yang bercampur memiliki potensi yang cukup besar.

disampaikan standar konfigurasi badan jalan paling kecil yaitu jalan lingkungan yang memfasilitasi pergerakan sepeda motor.

Lebar 1 lajur jalan kecil untuk kendaraan bermotor roda dua paling sedikit 1,5 meter. Dalam gambar teknis berikut, lebar lajur sepeda motor 1,5 m terdiri  dari  lebar  lajur  lalu  lintas  sepeda  motor

1,3 m dan marka pembagi lajur. Jika lahan cukup, dibangun 2 jalur sehingga dapat memfasilitasi pergerakan kendaraan dalam dua arah.

 

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 19/PRT/M/2011 Tahun 2011 tentang Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan, Untuk mengurangi risiko tersebut, beberapa ruas jalan dan jembatan telah dibangun dengan fasilitas lajur khusus sepeda motor.

Pembangunan lajur khusus motor ini disediakan untuk    melindungi    pengguna    sepeda    motor dari pergerakan kendaraan bermotor lainnya sehingga memperkecil terjadinya tumbukan atau kecelakaan. Ruas yang telah dilengkapi dengan jalur sepeda motor adalah Jembatan Suramadu dan Jalan Tol Bali Mandara.

Jembatan Suramadu, yang menghubungkan Surabaya dan Madura, memiliki panjang total 5,44 kilometer dengan lebar sekitar 30 meter. Jembatan ini  dilengkapi empat lajur dua  arah  selebar  3,5 meter dan lajur khusus bagi sepeda motor di setiap sisi luar jembatan. Jembatan ini menggunakan konstruksi penyangga beton kotak sepanjang 80 meter tiap bentang dengan 7 bentang tiap sisi yang ditopang fondasi penopang berdiameter 180 cm.

Jalan Tol Bali Mandara menjadi salah satu contoh jalan tol yang dilengkapi dengan lajur khusus sepada motor. Jalan tol sepanjang 12,7 kilometer menghubungkan Kota Denpasar dan Kabupaten Badung serta mengakses Bandara Ngurah Rai, Benoa,   dan   Nusa   Dua.   Mengingat   jalan   tol ini berada di atas laut, jalan tol ini dilengkapi dengan alat pengukur kecepatan angin berupa anemometer berbasis Internet of Things (IoT) di setiap gerbang tol (Nusa Dua, Ngurah Rai, dan Benoa).

Ketika kecepatan angin mencapai 40 km/jam atau lebih, jalan tol lajur sepeda motor akan ditutup sementara. Apabila kecepatan angin melebihi 80 km/jam maka jalur mobil juga ditutup.

Lajur  khusus  sepeda  motor  merupakan  salah satu strategi untuk meningkatkan keselamatan di jalan raya. Jalur terpisah memberi perlindungan lebih bagi pengendara motor yang paling rentan terhadap benturan, sekaligus membuat perjalanan lebih efisien dengan berkurangnya hambatan lalu lintas. Meski membutuhkan biaya konstruksi tambahan karena harus dibangun terpisah dari jalur utama, manfaat yang dihasilkan jauh lebih besar yaitu terciptanya sistem transportasi yang lebih aman, tertib, dan berkelanjutan.