Artikel

Beranda Artikel Kondisi Jalan Nasional Pasca Gempa Mamuju-majene
Beranda Artikel Kondisi Jalan Nasional Pasca Gempa Mamuju-majene

Kondisi Jalan Nasional Pasca Gempa Mamuju-majene

  •  10 Okt 2021
  • Artikel/Artikel
  • 62 viewed
Kondisi Jalan Nasional Pasca Gempa Mamuju-majene
Foto: Kondisi Jalan Nasional Pasca Gempa Mamuju-majene
Oleh: Suantoro Wicaksono, Maulana Iqbal dan Fahmi Aldiamar

Awal tahun 2021 menjadi duka bagi Indonesia di wilayah tengah, pasalnya pada tanggal 14 Januari 2021 pukul 14.35 WITA daerah Mamuju, Sulawesi Barat dan sekitarnya diguncang oleh gempa bumi tektonik  dengan  magnitudo  M  5,9.  Daerah  ini kembali  dilanda  gempa  bumi  susulan  13  jam kemudian tepatnya tanggal 15 januari 2021 sekitar pukul 18.00 WITA bermagnitudo M 6,2 lebih besar dari gempa bumi sebelumnya.

BMKG  menyatakan  bahwa  gempa  bumi  pertama berepisenter pada koordinat 118,89o BT dan 2,99o LS,  sementara  gempa  bumi  kedua  berpusat  di 118,94o  BT  dan  2,98o  LS  dengan  kedalaman episenter  masing-masing  18  km.  Meski  tidak berpotensi  tsunami, namun dampak dari  gempa diantaranya banyak bangunan yang runtuh, tidak sedikit pula korban jiwa dan beberapa ruas jalan tidak  dapat  digunakan  bagi  kendaraan  untuk melintas, dikarenakan  terdapat  longsoran  lereng yang mengganggu lalu lintas kendaraan.

Kementerian  PUPR,  termasuk  salah  satu kementerian yang meninjau langsung ke lapangan pada  hari  pertama  pasca  gempa. Kementerian PUPR melakukan inventarisasi pasca gempa untuk melakukan  survei  ruas  jalan  nasional,  jalan provinsi,  dan  jalan  kabupaten.  Ruas  jalan  yang dilakukan survei  adalah  ruas  jalan  nasional  yang menghubungkan  Kabupaten  Mamuju  dan Kabupaten  Majene,  terdiri  dari  tiga  ruas  jalan, yaitu:  ruas  jalan nasional  Mamuju  –  batas Kabupaten  Majene,  batas  Mamuju  –  Tameroddo dan Tameroddo – batas Kota Majene.

Diketahui dari hasil survei tersebut, tipe lereng pada ruas  jalan  nasional  dan  provinsi  Sulawesi  Barat, merupakan tipe lereng alam (natural slope). Tipe ini merupakan lereng yang terbentuk karena fenomena alam yang terjadi akibat dari proses geologi dan tidak ada perkuatan struktur.

Secara  umum  geometri  lereng  merupakan  lereng tanah  dengan  material  pembentuk  yang  sebagian besar  tanah  dan  lapukan  batuan. Dengan kondisi permukaan berupa vegetasi, maka harus diperkirakan  beberapa  drainase  lereng  yang mengalami  kerusakan  akibat pergerakan saat terjadinya gempa.

Kementerian PUPR, termasuk salah satu kementerian yang meninjau langsung ke lapangan pada hari pertama pasca gempa. Kementerian PUPR melakukan inventarisasi pasca gempa untuk melakukan survei ruas jalan nasional, jalan provinsi, dan jalan kabupaten

 Sekilas Lereng Dan Faktor-Faktor Ketidakstabilan

Sebagaian  besar  wilayah  di  Indonesia  memiliki topogra? pegunungan dengan derajat kemiringan lereng  yang  tinggi.  Secara  umum  de?nisi  lereng adalah  sebuah  permukaan  tanah  yang  terbuka, berdiri  membentuk  sudut  tertentu  terhadap sumbu  horizontal,  atau  permukaan  tanah  yang memiliki dua elevasi berbeda dengan permukaan tanah membentuk sudut.

Melihat  bentuk  kemiringan  lereng,  maka  sering menimbulkan  potensi  longsor.  Longsor  terjadi ketika  gaya  penggerak  lebih  besar  daripada  gaya penahannya.  Longsoran  disebabkan  oleh perpindahan  material  pembentuk  lereng  yang berupa  batuan,  bahan  rombakan,  tanah,  atau material campuran yang bergerak ke bawah atau keluar lereng.

Faktor-faktor yang menyebabkan ketidakstabilan lereng alam, yaitu:

  1. Perubahan pro?l kemiringan lereng akibat beban tambahan di bagian atas lereng atau berkurangnya kekuatan di bagian dasar lereng;
  2. Peningkatan tekanan air tanah yang mengakibatkan  penurunan  tahanan  geser  pada tanah  nonkohesif  atau  terjadinya pengembangan pada tanah kohesif. Tekanan  air  tanah  dapat meningkat  ketika  tanah  mengalami penjenuhan akibat  air  hujan, rembesan, atau munculnya air permukaaan;
  3. Penurunan  kuat  geser  tanah  atau  batuan  yang disebabkan  oleh  pelapukan,  pencucian,  perubahan mineralogi, dan adanya rekahan;
  4. Getaran  yang  disebabkan  oleh  gempa  bumi, peledakan, atau pemancangan tiang

Kondisi Badan Jalan Mamaju – Majene Pasca Gempa

Longsoran yang terjadi   pada area pasca gempa Mamuju – Majene umumnya adalah longsoran permukaan pada lereng atas. Secara garis besar kondisi lereng di ruas jalan nasional Mamuju – batas Kabupaten Majene, batas Mamuju – Tameroddo dan Tameroddo – batas Kota Majene dapat dibagi menjadi 3 kategori risiko, yaitu: risiko tinggi, risiko sedang dan risiko rendah.

Longsoran Risiko Tinggi

Risiko tinggi apabila pada lereng tersebut berpotensi terjadinya runtuhan batuan; atau perlu penyelidikan tanah lebih lanjut untuk penanganan permanen.

Lokasi Ruas Jalan Nasional batas Mamuju – Tameroddo KM 78 + 500 mengalami longsoran risiko tinggi. Saat dilakukan  survei  pada  hari  ketiga  pasca gempa  bumi,  masih  dilakukan  pembersihan  pada  badan  jalan. Longsoran pada lokasi ini adalah jatuhan batuan, yang berjenis batu pasir lapuk dan batu lempung masif.

Terlihat pada Gambar 2, batuan pada lokasi ini memiliki ukuran sangat besar dengan ukuran sisi hingga 2 m. Beberapa batuan sudah jatuh, tetapi ada beberapa batuan yang masih menempel pada lereng. Batuan yang menempel pada lereng berpotensi longsor apabila mendapat getaran akibat gempa susulan atau hujan lebat yang memberi dampak penjenuhan lereng.

Longsoran dengan risiko tinggi lainnya terjadi pada Ruas Jalan Nasional batas Mamuju – Tameroddo KM 58 + 375.  Pada  lokasi  ini  terjadi  longsoran  pada lereng  bawah  atau  amblasan  pada  bahu  jalan.  Bronjong  yang terdapat pada lokasi ini mengalami kerusakan. Bronjong berfungsi melindungi danmemperkuat struktur tanah  di  sekitar  tebing,  agar  tidak  terjadi  longsor.  Namun  pada  lokasi  KM  58  +375,  penanganan  dengan bronjong tidak sesuai digunakan untuk lokasi ini.

Tim  survei  Kementerian  PUPR  mengusulkan  untuk  dilakukan  pemboran  teknik  untuk  mengetahui karakteristik tanah, terutama letak bidang gelincir. Data hasil pemboran teknik tersebut yang akan digunakan sebagai perhitungan penanganan apa yang dapat diterapkan. Sebagai penanganan sementara, perlu dijaga agar  air  tidak  menggenangi  lokasi  tersebut  dengan  pemasangan  kerb  untuk  pengarah  aliran  air,  serta pemasangan terpal untuk menghindari erosi permukaan pada lereng badan timbunan.

Longsoran Risiko Sedang

Risiko sedang apabila ditemukan rekahan pada tanah, sehingga perlu ditutup dengan bahan yang kedap air agar air tidak masuk ke dalam badan jalan

Pada Ruas Jalan Nasional batas Mamuju – Tameroddo KM 59 + 590 mengalami longsoran dengan risiko sedang. Pada lokasi ini terdapat 2 permasalahan, yaitu longsoran permukaan pada lereng atas serta adanya retakan pada badan jalan seperti yang terlihat pada Gambar 4.

Berdasarkan hasil survei debris pada badan jalan sudah dibersihkan, namun pada saluran drainase masih ditemukan  debris  yang  menutupi  saluran  air.  Hal  ini  harus  dilakukan  pembersihan  agar  aliran  air  dapat mengalir sehingga tidak masuk dan merusak badan jalan. 

Selain  pembersihan  debris,  retakan  pada  badan  jalan  perlu  dijaga  agar  terhindar  dari  air  yang  masuk. Penanganan sementara yang dilakukan adalah penutupan retakan dengan terpal dan pengendalian aliran air permukaan.

Sebagai penanganan permanen pada badan jalan yang terjadi retakan, diperlukan pembongkaran badan jalan, serta pengisian retakan dengan urugan pilihan dan dipadatkan. Bahan pengisi harus padat agar kedap air. Selanjutnya, pada bagian atas diberi agregat kelas S. Untuk lereng atas dilakukan pelandaian dengan trapping per-lima meter, mengingat tinggi lerengnya lebih dari lima meter.

Longsoran Risiko Rendah

Risiko rendah apabila secara umum kondisi lereng yang sudah longsor aman, penanganan yang diperlukan adalah pelandaian lereng atau trapping. 

Pada Ruas Jalan Nasional Mamuju – batas Kab. Majene KM 26 + 350 mengalami longsoran dengan risiko rendah. Pada Gambar 5 terlihat lokasi ini juga terjadi longsoran permukaan di lereng atas. Seperti pada lokasi- lokasi lainnya, pada badan jalan sudah tidak ditemukan debris, namun pada beberapa lokasi terdapat saluran yang masih tertutup oleh debris. 

Penanganan  sementara  yang  dapat  dilakukan  adalah  dengan  pembersihan  saluran  drainase.  Pada  saat melakukan survei, kondisi tanah pembentuk lereng terlihat lembab, sehingga perlu dibuatkan suling-suling air yang dapat mengalirkan air ke luar. Selain itu, mengingat tinggi lereng atas sekitar ± 25 m, maka perlu dilakukan pelandaian/trapping.

Kondisi Jembatan Pada Ruas Jalan Nasional Mamuju – Majene Pasca Gempa

Secara  fungsional  kondisi  jembatan  pada  ruas  jalan  nasional  Mamuju  –  Majene  dalam  kondisi  baik. Kerusakan  yang  terjadi  pada  umumnya  berupa penurunan  tanah  timbunan  (oprit),  kerusakan  pada sambungan siar muai, dan bangunan penahan gempa yang sebagian betonnya mengalami pecah.

Namun terdapat beberapa jembatan yang memerlukan perhatian khusus diantaranya yaitu Jembatan Losa 1 yang  mengalami  penurunan  tanah  timbunan dan  pergerakan  fondasi,  Jembatan  S.  Taosa  mengalami pergeseran bangunan atas ±10 cm, dan Jembatan S. Karangmate yang mengalami pergeseran ±20 cm.

Kondisi Perkerasan Pada Ruas Jalan Nasional Mamuju – Majene Pasca Gempa

Pada ruas jalan kota Mamuju, banyak ditemukan kerusakan perkerasan jalan  berupa pergeseran akibat dari gempa. Tipikal kerusakan yakni retak memanjang paling banyak terjadi pertemuan antara perkerasan lentur dan saluran drainase berupa box culvert

Penutup

Kondisi  jalan  nasional  Mamuju  –  Majene  Pasca Gempa  mengalami  beberapa  kerusakan  pada badan  jalan  yang  terdapat  longosoran  dengan kategori  risiko  tinggi,  risiko  sedang,  dan  risiko rendah,  kerusakan  jembatan  yang  mengalami oprit,  kerusakan  sambungan  siar  muai  dan bangunan penahan gempa yang mengalami pecah beton, serta kerusakan perkerasan pada ruas jalan yang mengalami reta memanjang.

Kondisi tersebut memerlukan tindakan penanganan dengan rekomendasi sebagai berikut:

  1. Penanganan secara umum pada longsoran ruas jalan nasional Mamuju – Majene adalah perbaikan dan  pembersihan  saluran  drainase,  pelandaian  / trapping  lereng  atas  penanganan  erosi  dengan vegetasi, dan penutupan rekahan yang terjadi pada jalan.
  2. Penanganan  khusus  pada  ruas  jalan  nasional Mamuju  –  Majene  KM  78  +  500  dengan menggunakan  2  opsi.  Penangan  pertama  yang dilakukan adalah  penurunan  batuan  yang menempel  pada  permukaan lereng,  pembersihan batuan  yang  menutupi  badan  jalan,  selanjutnya memasangkan jaring batuan di lereng yang pernah longsor. Setelah itu, langkah selanjutnya pada opsi pertama  yakni  penyediaan  bu?er  zone  dan pembuatan bu?er wall di bawah lereng, alinemen jalan  baru  yang  menjauhi  lereng  atas,  serta perkuatan  lereng  bawah.  Sedangkan  opsi  kedua penanganan  dapat  dilakukan dengan  pembuatan DPT  serta  jaring  beton  dilereng  dan  perbaikan perkerasan  jalan  eksisting,  dengan  alinemen  jalan tidak berubah.
  3. Penanganan  secara  umum  kerusakan  jembatan pada  ruas  jalan  nasional  Mamuju  –  Majene  dapat dilakukan  dengan  perbaikan  tanah  timbunan dengan  perbaikan  dinding  penahan  tanah  yang mengalami pecah atau retak, perbaikan sambungan siar  muai  dan  elemen  penahan  gempa,  reposisi bangunan  atas,  penggantian  landasan  jembatan, serta  pemanfaatan  timbunan  ringan  untuk mengurangi  beban  lateral  dan  penurunan  yang terjadi.
  4. Penanganan  kerusakan  perkerasan  ruas  jalan nasional  Mamuju-Majene  dapat  dilakukan  secara sementara  dan  permanen.  Penangan  sementara dilakukan  untuk  kerusakan  perkerasan  lentur  dan retak halus dengan lebar < 0,5 cm dapat langsung ditutup  dengan  laburan  aspal  (buras).  Sedangkan penanganan sementara untuk retakan dengan lebar >  0,5  cm  harus  diisi  dulu  dengan  agregat  dan dipadatkan, untuk selanjutnya diberi laburan aspal (buras).
  5. Untuk  penanganan  permanen  perkerasan dilakukan dengan merekontruksi jalan sampai tanah dasar (tanah eksisting). Perkuatan tanah dasar dapat menggunakan geosintetik stabilisator yang mengacu pada pedoman dengan nomor Pd-T-003/BM/2009.

 

Sumber : BINEKA, Vol. 2 Edisi April 2021