Artikel

Beranda Artikel Data Mining Sebagai Optimasi Proyek Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Akibat Pandemi Covid-19
Beranda Artikel Data Mining Sebagai Optimasi Proyek Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Akibat Pandemi Covid-19

Data Mining Sebagai Optimasi Proyek Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Akibat Pandemi Covid-19

  •  27 Juni 2022
  • Artikel/Artikel
  • 488 viewed
Data Mining Sebagai Optimasi Proyek Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Akibat Pandemi Covid-19
Foto: Data Mining Sebagai Optimasi Proyek Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Akibat Pandemi Covid-19
Oleh : Andri Irfan Rifai

Mengingat kembali peristiwa Gempa Palu, Sigi dan Donggala 28 September 2018 yang menimbulkan kerusakan sangat tinggi dengan dampak yang cukup luas. Gempa ini memiliki fenomena yang lengkap baik akibat pergerakan sesar, tsunami, longsoran maupun peristiwa likuifaksi dahsyat yang mungkin terbesar pernah terjadi di dunia. Namun, kini suasana duka dan trauma masyarakat yang terdampak langsung maupun tidak langsung sudah mulai hilang. Khususnya fenomena likuifaksi mengutip dari hasil Laporan Bencana Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi di Palu, Sigi, dan Donggala Tahun 2018, bahwa likuifaksi mendapatkan perhatian dari masyarakat Indonesia bahkan dunia karena peristiwa aliran lumpur saat likuifaksi telah memporak-porandakan infrastruktur jalan maupun perumahan dalam secara langsung dengan skala yang masif.

Wilayah Palu mendapatkan pengaruh terbesar saat gempa tersebut terjadi, selain karena intensitas gempa yang cukup tinggi juga dipengaruhi oleh keberadaan Sesar Palu-Koro yang membelah dua area kota ini. Menurut Mallick, et al. (2018) sesar ini merupakan sesar aktif yang memanjang dari Sulawesi bagian tengah hingga Selat Karimata. Sementara Socquet et al. (2019) memperkirakan sesar ini bergerak secara aktif dengan pergeseran 41-45 mm/tahun. Likuifaksi yang terjadi sesaat setelah gempa terbesar mengguncang Kota Palu masih menyisakan berbagai pertanyaan yang menarik, mulai dari area yang terkena serta bentuk Likuifaksi yang terjadi juga cukup bervariasi. Ada 4 (empat) area dengan pengaruh likuifaksi terbesar, yaitu Petobo, Balaroa, Jono Oge dan Sibalaya.

Pasca bencana yang terjadi, berbagai pihak segera melaksanakan pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi, salah satunya dalam bidang infrastruktur transportasi yaitu RR-02. Proyek Pekerjaan RR-02 merupakan sebutan untuk paket Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jalan Palupi - Simoro, Kalukubula - Kalawara, Biromaru – Palolo, Akses Huntap Pombewe yang terdampak gempa bumi dan likuifaksi di Kota Palu dan Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Paket RR-02 mempunyai panjang efektif 21,67 km dan fungsional 46,62 km pada jalan provinsi di ruas jalan Palupi - Simoro, Kalukubula - Kalawara, Biromaru – Palolo, dan Akses Huntap Pombewe. Persiapan proyek dilakukan melalui Basic Design yang dikembangkan oleh Satker Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) Provinsi Sulawesi Tengah, ditinjau oleh Kemitraan Indonesia Australia Untuk Infrastruktur (KIAT) dan dikoordinasikan bersama Direktorat Preservasi, Dirjen Bina Marga. Selama proses desain, review internal untuk desain perkerasan dan audit keselamatan jalan telah berjalan. Terdapat pekerjaan rehabilitasi, rekonstruksi dan rutin, penanganan jalan terdampak likuifaksi, termasuk sistem drainase, konstruksi dinding penahan, pembangunan jembatan, dan rutin jembatan di Kota Palu dan Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah.

Keberhasilan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di bidang infrastruktur sangat dipengaruhi oleh kinerja manajemen proyek. Salah satunya adalah jaminan produktivitas kontraktor untuk mencapai target yang telah ditentukan. Namun hal tersebut berubah saat kondisi pandemi virus Corona atau yang lebih dikenal dengan COVID-19 muncul di Indonesia. Pandemi COVID-19 telah menurunkan produktivitas secara signifikan di berbagai bidang, termasuk bidang jasa konstruksi. Penurunan kinerja tersebut juga terjadi pada Paket RR-02 yang mengancam terjadinya kegagalan kontrak. Sepintas terkesan bahwa COVID-19 dapat disebut bencana non-alam yang telah menjadikan bencana lanjutan pada proyek penanganan bencana alam sebelumnya.

Penurunan produktivitas salah satunya disebabkan oleh adanya pembatasan pergerakan orang, pembatasan interaksi, serta kekhawatiran dan potensi risiko terpapar virus Corona. Risiko terpapar para pegawai konstruksi akibat virus corona membuat aktivitas interaksi karyawan semakin terbatas dan kinerja kontraktor juga menurun. Seperti yang diungkapkan Araya (2020) COVID-19 dapat memengaruhi tenaga kerja yang melakukan berbagai aktivitas konstruksi di seluruh proyek konstruksi. Penurunan kinerja perusahaan konstruksi juga dipengaruhi oleh kondisi keuangan dan ekonomi global. Selama periode ini, Pemerintah telah menanggapi dengan berbagai kebijakan yang dirancang untuk mendukung berbagai bisnis, salah satunya dengan penerapan new-normal. Fase new-normal harus dapat dimanfaatkan untuk memulihkan berbagai kondisi di lapangan, salah satunya dengan mengoptimalkan produktivitas pekerjaan industri konstruksi.

Terlepas dari kemampuan mensiasati tantangan yang terjadi akibat pandemi COVID-19, pada akhirnya outcome dari jasa konstruksi adalah pelayanan publik sehingga didalam menjalankan fase new-normal ini, selain menuntaskan target pekerjaan tetapi perlu diperhatikan kaidah-kaidah lainnya, seperti kaidah hukum kontrak, manfaat ekonomi, dan tingkat kepuasan pelayanan publik. Pada tulisan ini akan dibahas tentang peningkatan kinerja penyedia jasa akibat pandemi COVID-19, pengujian manfaat ekonomi dari langkah yang diambil, serta pengukuran tingkat kepuasan masyarakat atas pekerjaan yang telah dikerjakan.

 

Kajian Produktivitas Kinerja Pekerja Konstruksi Pada Masa Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 ternyata berdampak besar pada kondisi global, virus Corona memberikan guncangan yang luar biasa pada pertumbuhan ekonomi global. Seiring dengan hal tersebut telah terjadi penurunan kinerja ekonomi di berbagai bidang, termasuk industri konstruksi. Produktivitas di berbagai bidang juga mengalami penurunan, antara lain produktivitas di bidang pertambangan, konstruksi, pertanian, industri, industri real estate. Tantangan terbesar diterima terutama oleh industri konstruksi padat karya. Interaksi yang tinggi antar pekerja dalam pekerjaan padat karya terhambat oleh protokol COVID-19 yang membatasi pergerakan dan jumlah pekerja di satu lokasi.

Penurunan produktivitas proyek konstruksi dikutip dari hasil penelitian terjadi hampir merata di berbagai belahan dunia. Secara global, ada perubahan produktivitas yang sangat signifikan sebelum dan sesudah pandemi (Cherukur, Reshma, & Devi, 2020). Seperti yang terjadi pada beberapa proyek konstruksi di Timur Tengah dan Eropa berdasarkan penelitian Alenezi (2020) menunjukan penurunan produktivitas yang cukup signifikan. Salah satu contoh kejadian nyata dan berdampak luar biasa adalah penundaan proyek konstruksi di Kuwait karena pandemi COVID-19. Hasil penelitian menegaskan bahwa penundaan proyek merupakan penundaan kritis dan penyebabnya adalah 95% karyawan tidak dapat bekerja setiap saat karena reaksi pemerintah terhadap pandemi.

Kondisi produktivitas kinerja kontraktor semakin tertekan saat regulator menerapkan lock-down. Hasilnya menunjukkan bahwa kebijakan tersebut terbukti sulit untuk mengelola proyek karena para pekerja terpaksa bekerja dari rumah. Hal ini menyebabkan penundaan dalam kegiatan proyek karena banyak staf tidak dapat secara fisik pergi ke lokasi dan melakukan pekerjaan. Lebih lanjut kajian hasil penelitian Jamaludin, dkk tahun 2020 menerangkan para manajer merasa kesulitan untuk mengelola tim mereka sehingga diperlukan kebijakan regulator dalam menyikapi kondisi pandemi ini. Prosedur yang diperkenalkan oleh pemerintah sebagai regulator harus ditegakkan oleh otoritas lokal dalam memastikan keselamatan dan kesehatan masyarakat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2020 telah merekomendasikan enam kriteria bagi negara-negara yang mempertimbangkan untuk mencabut pembatasan pergerakan. Kriteria pertama adalah penularan COVID-19 di negara yang sudah dapat dikendalikan. Kriteria kedua adalah fasilitas perawatan kesehatan termasuk rumah sakit dan klinik dapat menemukan, menguji, mengisolasi, merawat, dan melacak setiap kontak erat. Kriteria ketiga adalah risiko penularan pada kelompok risiko tinggi telah diminimalkan seperti di fasilitas pelayanan kesehatan dan panti jompo. Kriteria keempat adalah tindakan pencegahan yang dilakukan di tempat-tempat penting seperti taman kanak-kanak, sekolah, toko, dan tempat kerja. Kriteria kelima adalah risiko penularan COVID-19 yang diimpor seperti dari para pemudik, wisatawan dan pelajar asing dapat dikelola. Kriteria terakhir adalah komunitas telah dipersiapkan untuk menjalani kondisi new-normal.

Munculnya rekomendasi dari WHO terkait kriteria pencabutan kebijakan pembatasan pergerakan mengharuskan adanya pendekatan baru dalam regulasi produktivitas pekerja konstruksi. Program pendekatan baru dalam bentuk new-normal harus didesain ulang dengan mengurangi jumlah tenaga kerja di tempat pada waktu-waktu tertentu untuk memungkinkan adanya social distancing serta perbaikan fasilitas kesehatan di tempat kerja. Berdasarkan hasil studi literatur, banyak faktor yang memengaruhi industri konstruksi, beberapa diantaranya adalah permasalahan akibat hubungan yang kompleks antara pengusaha, kontraktor, dan pekerja, di luar kondisi kendali tenaga kerja akibat pandemi COVID-19. Kondisi ini dipersulit karena jasa konstruksi tidak termasuk industri yang dapat dilaksanakan dari jarak jauh. Seperti yang telah terjadi dengan telework, otomatisasi dapat dipercepat setelah krisis karena dapat digunakan sebagai strategi untuk meminimalkan risiko kesehatan sambil mempertahankan produksi dan aktivitas ekonomi. Tentu saja, sebagai bagian dari ilmu teknik, industri konstruksi harus mampu bertahan dari tantangan ini. Banyak langkah yang dapat diambil untuk mengoptimalkan produktivitas tenaga kerja di fase new-normal ini. Perhatian terhadap tenaga kerja diperlukan karena produktivitas tenaga kerja memainkan tugas penting dalam membentuk krisis keuangan yang timbul akibat industri konstruksi. Kerangka konstruksi yang dikutip dari Iranian Journal Fuzzy System 2020 terdiri dari berbagai strategi perencanaan, metodologi desain, dan pembiayaan, yang dimulai dari pembangunan proyek hingga perlengkapan untuk digunakan.

Berbagai cara untuk mengoptimalkan produktivitas tenaga kerja telah digunakan di berbagai bidang pekerjaan di industri konstruksi. Banyak proyek konstruksi dan rekayasa terdiri dari kegiatan berulang, seperti proyek pemindahan tanah. Banyak waktu, uang, dan tenaga dapat dihemat dalam proyek apa pun jika keputusan yang tepat dibuat pada tahap perencanaan. Seperti yang dijelaskan Mirahadi & Tarek (2016), karena sifat stokastik dari proses konstruksi siklik, data historis yang dikumpulkan dari proyek sebelumnya dapat membantu insinyur perencanaan dalam membuat estimasi yang lebih baikdariperkiraantingkatproduktivitas.Pendekatan lintas ilmu saat ini bukan lagi hal baru. Penggunaan data mining (DM), data science, kecerdasan buatan, dan basis ilmu komputer lainnya sedang berkembang. Penggunaan DM yang sangat populer saat ini mampu memprediksi kinerja produktivitas konstruksi pada pekerjaan konstruksi dan industri lainnya. Sedangkan pada industri konstruksi seperti yang dijelaskan Rifai, dkk (2018), DM terbukti mampu memprediksi produktivitas pekerjaan tanah pada proyek pembangunan infrastruktur transportasi yang kemudian dioptimalkan dengan pendekatan algoritma genetika.

 

METODE PENGUJIAN

Data produktivitas sebagian besar diperoleh dari proyek rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah bencana Palu, terutama Proyek RR-02. Data ini merupakan catatan sejarah proyek rehabilitasi dan rekonstruksi, produktivitas peralatan konstruksi, dan informasi penting lainnya. Data produktivitas proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang diperoleh dari entitas proyek infrastruktur berkisar antara 2019 hingga 2020. Pengujian untuk mengukur produktivitas kerja konstruksi menggunakan pendekatan Data Mining (DM). Keunggulan pendekatan DM untuk beberapa data yang tidak lengkap dapat diperkirakan data yang hilang atau bias dalam database. Selain informasi yang diperoleh dari entitas pengatur proyek, data juga bersumber dari spesifikasi standar proyek.

Pendekatan DM dalam pengujian ini digunakan untuk melakukan eksplorasi, analisis, dan menemukan pola dan aturan yang berarti dari sejumlah big data. DM umumnya digunakan untuk prediksi dan deskripsi. Data yang dikumpulkan dalam tulisan ini diklasifikasikan menggunakan program RMiner. Alat tersebut mencakup pra- pemrosesan data, klasifikasi, pengelompokan, penambangan aturan asosiasi, pemilihan atribut, dan oprtimasi. Pendekatan DM menurut Cortez (2010) diimplementasikan dalam perangkat lunak R (http://www.r-project.org/) dengan memanfaatkan r-miner library.

Sebagai tahap awal, pendekatan sistem ini digunakan untuk melakukan pendekatan perbaikan dan peningkatan produktivitas kerja yang turun di awal pandemi. Pendekatan yang akan dibahas didasarkan pada peraturan dan kontrak yang berlaku. Selanjutnya akan dilakukan berbagai perhitungan untuk mendapatkan pemodelan peningkatan produktivitas dan prediksinya. Dimulai dengan melakukan klasifikasi terhadap faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas pekerjaan utama yang akan dilakukan dengan menggunakan pendekatan DM. Studi waktu sistematis pertama dilakukan dengan enam pekerjaan utama. Nilai produktivitas harian dikumpulkan bersama dengan informasi yang terkait dengan faktor pendukung. Data yang terkumpul kemudian diolah dan dinormalisasi. Setelah data dinormalisasi, nilai outlier dihilangkan dari dataset karena rentang data tidak sesuai untuk klasifikasi.

Tahap kedua, terkait manfaat ekonomi dalam melakukan penyesuaian kontrak akibat pandemi COVID-19 menggunakan metode with and without. Metode ini dipilih agar dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan pembandingan kondisi dengan penyesuaian dan tanpa penyesuaian serta atas dasar pendekatan kebijakan publik atau pendekatan economic analysis. Analisis yang dilakukan merupakan analisis ekonomi untuk membandingkan kelayakan ekonomi dari seluruh alternatif solusi. Tinjauan aspek ekonomi merupakan analisis terhadap biaya (cost) dan keuntungan (benefit). Biaya ini meliputi biaya konstruksi, biaya tertundanya perjalanan, biaya kecelakaan, serta biaya inefisiensi akibat tertundanya pekerjaaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Selanjutnya, aspek ekonomi studi kelayakan jalan ini akan digunakan suatu alat yang lazim dipakai dalam bidang ekonomi, yaitu IRR (Internal Rate of Return), NPV (Nett Present Value), dan BCR (Benefit Cost Ratio).

Untuk tahap terakhir, terkait pengukuran kepuasan masyarakat terhadap pekerjaan RR-02. Pengukuran tingkat kepuasan menggunakan IPA (Importance Analysis Performance). Penerapan IPA dimulai dengan identifikasi atribut-atribut yang relevan dengan situasi pilihan yang diamati. Data dikumpulkan menggunakan metode kuisoner dengan membagikan langsung kepada masyarakat terdampak serta menggunakan google form untuk penggunajalanlainnya.Daftaratributdikembangkan dengan menggunakan ukuran rata-rata, median atau peringkat, skor kepentingan agregat dan atribut kinerja dan diklasifikasikan ke dalam kategori tinggi atau rendah; kemudian dengan memasangkan dua set peringkat, setiap atribut ditetapkan ke salah satu dari empat kuadran. Atribut layanan diplot dalam matriks dua dimensi berdasarkan kepentingan dan kinerja masing-masing atribut. Kepentingan dan kinerja rata-rata atau median dari semua atribut membagi matriks menjadi empat kuadran.

 

Hasil Pengujian

Proyek RR-02 dipilih sebagai permasalahan pengendalian penurunan kinerja akibat pandemi COVID-19. RR-02 memiliki karakteristik yang lengkap sebagai proyek di masa pandemi dengan cakupan yang cukup luas dan menarik. Proyek ini memperbaiki jalan provinsi dan kabupaten dengan berbagai tingkat kerusakan akibat gempa bumi dan likuifaksi. RR-02 juga ditugaskan untuk membangun jalan dan jembatan untuk akses permukiman baru, sebagai pengganti daerah yang terkena bencana. Bagian ini akan diuraikan optimasi peningkatan kinerja, analisa ekonomi, dan analisa tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan RR-02.

 

Pengendalian Kinerja Akibat Pandemi Covid-19

Pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa, likuifaksi, dan tsunami yang terjadi di Palu, Sigi dan Donggala pada 28 September 2018 menyebabkan berbagai aktivitas menjadi lumpuh akibat rusaknya berbagai fasilitas umum, transportasi dan infrastruktur. Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut rencananya akan selesai secara keseluruhan pada tahun 2022. Dalam prosesnya, ternyata pada awal tahun 2020 pandemi COVID-19 telah melanda hampir seluruh belahan dunia, termasuk Palu, Sigi, dan Donggala. Ini mengganggu proses penyelesaian dan berpotensi tidak akan selesai tepat waktu. Untuk mengetahui optimasi peningkatan kinerja dilakukan melalui dua pendekatan yakni pendekatan sistem dan pendekatan hirarki.

  1. Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem berfungsi sebagai proses pengelolaan untuk pembangunan infrastruktur transportasi di wilayah Kabupaten Sigi yang terdampak gempa dan likuifaksi. Tujuan dari sistem ini adalah untuk menghasilkan prasarana transportasi di Kabupaten Sigi yang terdampak gempa dan likuifaksi sehingga dapat melayani kebutuhan masyarakat berupa sarana prasarana transportasi yang memenuhi persyaratan teknis. Kondisi Pandemi COVID-19 telah menjadi isu internasional, nasional, dan lokal serta memengaruhi seluruh aktivitas masyarakat secara global. Padahal kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi juga merupakan kegiatan pelepasan trauma healing dari bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi. Kondisi ini membuat kondisi proyek rekonstruksi dan rehabilitasi menjadi fenomena tersendiri.

Adapun beberapa masalah subsistem yang teridentifikasi yaitu,

  1. Kenaikan biaya, perubahan kebijakan fiskal
  2. dan pendanaan;
  3. Perubahan rencana dan waktu pelaksanaan;
  4. Penambahan fasilitas dan protokol kesehatan;
  5. Kesulitan tenaga kerja karena pembatasan pergerakan antar daerah;
  6. Pengaturan kepadatan tenaga kerja, dan
  7. Penurunan produktivitas tenaga kerja.
  1. Pendekatan Hirarki Sistem

Objek Hierarchy System terdiri dari ruang lingkup pengerjaan jembatan, ruang lingkup pekerjaan jalan, dan ruang lingkup pekerjaan saluran. Dari analisis pendekatan produktivitas terlihat bahwa objek yang paling potensial mengalami delay adalah ruang lingkup kerja saluran. Pekerjaan saluran kemudian dipecah menjadi dua sub-sistem manajemen proyek danteknisdanpelaksanaan.Selanjutnya,manajemen proyek dipecah menjadi Peraturan Non-Bencana Alam; Peraturan, Kontrak, dan Protokol Pendanaan COVID-19; Penyesuaian kontrak konstruksi; Perpanjangan waktu kontrak, Menambahkan item; Pembayaran Fasilitas COVID-19, dan Penyesuaian Biaya Kontrak. Sedangkan sub-sistem teknis dan pelaksanaan dipecah menjadi Metode Penggalian; Alat Pengoptimalan dan Modifikasi; dan penggunaan Bagian Modular. Penyederhanaan sistem hierarki di atas dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.

Penjelasan dan pencarian solusi dari sistem hierarki di atas, dilakukan dengan dua langkah. Pertama Proses Pendekatan Keputusan, pendekatan ini menggunakan pengambilan keputusan untuk setiap proses. Sistem yang digunakan berdasarkan regulasi dan regulasi kontrak pemerintah, hanya informasi yang diberikan oleh sistem ini yang disampaikan. Selanjutnya keputusan ada di tangan stakeholder.

Kedua, Pendekatan Integrasi Komponen, pendekatan ini akan terlihat hubungan antara satu sistem dengan sistem lainnya yang menyebabkan terjadinya perubahan pada sistem yang baru. Dalam menghadapi pandemi COVID-19 hampir semuanya direncanakan untuk berubah, karena kondisi ini tidak pernah diprediksi, sehingga perlu penyesuaian dalam berbagai hal dan menyebabkan munculnya sistem/pola baru dalam penanganan proyek tersebut. Pola baru atau disebut "normal baru" dalam mengerjakan proyek ditandai adanya perubahan regulasi, penambahan biaya yang belum pernah ada sebelumnya hingga metode kerja dengan mengoptimalkan alat dan mesin sebagai pengganti pekerjaan konvensional.

 

Data Produktivitas

Model diverifikasi menggunakan data dari kantor proyek RR-02. Dataset dari kantor proyek mencakup 1.315 hasil yang berasal dari 10 segmen jalan dan 6 parameter masukan. Parameter ini disebut sebagai parameter yang berpengaruh dalam studi empiris produktivitas pekerjaan selama sesi pandemi. Data produktivitas pekerjaan dikumpulkan dari riwayat laporan harian, mingguan, dan bulanan. Laporan dari kontraktor dan konsultan supervisi disusun dalam program database. Data yang dipilih berasal dari data tahun 2019 sampai dengan tahun 2020. Statistik parameter terlihat pada Tabel 2.

Berdasarkan data tersebut selanjutnya akan diolah menggunakan simulasi data mining, untuk mendapatkan usulan pengendalian kinerja produktivitas.

 

Simulasi Pengendalian

Simulasi pengendalian dilakukan untuk mendapat solusi dalam menyelesaikan masalah yang telah diidentifikasi secara akurat dan memperbaiki setiap fenomena buruk yang terjadi. Langkah strategis dalam menerapkan solusi tersebut adalah mengumpulkan data selengkap mungkin, kemudian melakukan analisis deskriptif dan matematis serta melengkapinya dengan model grafis. Berbagai pendekatan dilakukan untuk dapat melakukan tahapan penyelesaian yang telah ditentukan sebelumnya. Kajian tinjauan pustaka tentang standar kontrak formal dan internasional dilakukan oleh tim untuk dimungkinkan pengusulan perubahan kontrak agar mendapat kesempatan usulan perubahan metode konstruksi, perubahan material, dan perpanjangan waktu. Setelah itu dilakukan analisis ekonomi dan keuangan agar mengetahui manfaat yang diperoleh berada di bawah target awal. Pendekatan model yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Model deskriptif dipilih dengan mengambil endekatan penyelesaian berupa pendekatan kebijakan dan pengaturan kontrak; berupa peluang perubahan kontrak, dukungan dari beberapa regulasi kontrak internasional, dan implementasi protokol COVID-19 Prevention Health;
  2. Model grafis dipilih untuk mendeskripsikan perubahan kinerja produktivitas, desain bucket yang dimodifikasi, dan desain u-ditch.
  3. Model matematis dipilih untuk menghitung efisiensi pengoptimalan produktivitas dengan bantuan bahasa pemrograman R dalam data mining;

Mulai dari hirarki sistem yang telah ditetapkan, selanjutnya perlu dilakukan langkah-langkah dengan mempertimbangkan waktu pelaksanaan yang dibutuhkan dan ketersediaan sumber daya pada setiap tahapan pelaksanaannya. Dalam pelaksanaan setiap kegiatan perlu diuraikan secara rinci, kegiatan ini dikenal dengan istilah Work Breakdown Structure (WBS). Setelah kegiatan lain selesai maka selanjutnya menentukan kegiatan yang bisa dilakukan secara bersamaan. Sebagai akibat dari perubahan pola new normal diperlukan kesiapan sumber daya yang dibutuhkan berupa tenaga kerja, peralatan, material, cara kerja beserta rincian biaya yang dibutuhkan untuk setiap pekerjaan sehingga total biaya yang dibutuhkan harus disediakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang akan diketahui. Melalui beberapa langkah penyesuaian tersebut telah menghasilkan peningkatan produktivitas seperti yang dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini.

Data mining digunakan dalam menganalisa data yang terkumpul. Hasil yang diperoleh adalah pola peningkatan produktivitas yang dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Hasil pengujian data menggunakan DM dapat dilihat dalam bentuk grafik seperti pada Gambar 2.

Setelah dilakukan simulasi produktivitas, jadwal diatur kembali menggunakan alat prediksi DM; Dengan prediksi DM diperlukan tambahan waktu selama 72 hari. Hal tersebut untuk mengakomodasi kondisi lapangan ketika terjadi penurunan produktivitas akibat 'guncangan' pandemi COVID-19. Dalam menyusun jadwal, metode yang biasa digunakan adalah Network Planning untuk menentukan urutan kegiatan pekerjaan dari pekerjaan yang paling awal dikerjakan hingga pekerjaan yang paling baru dikerjakan dalam suatu rute atau jaringan. Kemudian disusun detail kegiatannya berdasarkan tahapan pekerjaan menggunakan diagram batang (Gant Chart) yakni panjang batang pada diagram menunjukkan skala waktu yang harus dikerjakan dan menempatkannya. Jika hasil simulasi dianggap tetap dan konsisten selama periode new normal, maka dapat dilihat perbandingan selisih produktivitas antara periode pandemi dan periode normal baru dan sebelum pandemi. Peningkatan produktivitas rata-rata pada saat pandemi dan new normal sebesar 53,04% seperti pada Gambar 3 di bawah ini.

sesuai urutan yang telah diperoleh dari perencanaan jaringan.

Dengan asumsi adanya penurunan kesenjangan produktivitas, kemungkinan keterlambatan pekerjaan dapat dikendalikan. Dalam menentukan lamanya atau waktu pekerjaan adalah dengan melihat susunan urutan pekerjaan dari pekerjaan pertama sampai pekerjaan terakhir yang dikerjakan. Salah satu alat bantu dalam manajemen proyek menggunakan Perencanaan Jaringan. Hasil yang dapat dilihat dari proses penggunaan network planning adalah terdapat jalur kritis yang dapat diambil sebagai tahapan yang paling menentukan lamanyawaktupengerjaan.Selanjutnyapenjadwalan pekerjaan menggunakan metode kurva S yaitu jadwal pelaksanaan pekerjaan yang disajikan dalam bentuk grafik yang dapat memberikan semacam ukuran kemajuan pekerjaan pada sumbu vertikal yang terkait dengan satuan waktu pada sumbu horizontal. Berdasarkan analisis kurva dibutuhkan tambahan 72 hari waktu pengerjaan sehingga dari kebutuhan 390 hari berubah menjadi 462 hari.

Pelaksanaan konstruksi perlu dilakukan evaluasi yang lebih mendalam. Adanya perubahan dan penggantian metoda penggalian tidak dilaksanakan dengan optimal menjadikan durasi galian tidak seuai dengan jadwal. Pelaksanaan konstruksi saluran tetap menggunakan metoda lama yaitu pemasangan batu mortar dengan pertimbangan menjaga ritme padat karya yang merupakan program pemerintah serta sangat bermanfaat untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Sebagai langkah lanjutan, untuk pekerjaan saluran tambahan yang belum dimasukan ke program padat karya, digunakan saluran precast. Keterlambatan penyedia jasa dalam merespon berbagai usulan perubahan menyebabkan terjadi keterlambatan dalam penyelesaian pekerjaan, sehingga bekerja di masa denda. Namun tentunya melalui berbagai pendekatan, salah satunya optimasi kinerja menggunan DM telah mampu menghindarkan terjadinya kegagalan penyelesaian pekerjaan. Dampak positif dari penyelesaian pekerjaan selanjutnya akan dianalisis dengan pendekatan manfaat ekonomi dan tingkat kepuasan masyarakat.

 

Analisis Ekonomi

Indikasi awal permasalahan pelaksanaan RR-02 ini bermula dari gejala kegagalan penyelesaian pekerjaan akibat penurunan kinerja selama COVID-19. Untuk mengantisipasi hal tersebut, ditempuh berbagai langkah penyesuaian yang dianggap dapat membantu penyelesaian pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi ini. Tujuan dari analisa ekonomi ini adalah untuk mengetahui tingkat kelayakan ekonomi akibat berbagai penyesuaian kontrak yang dilakukan, dengan melakukan analisis terhadap Perubahan Biaya Kontrak, Biaya Operasional Kendaraan (BOK), Tundaan dan Kecelakaan pada kondisi pra dan pasca RR-02. Ringkasan asumsi perubahan biaya kontrak dan lainnya dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.

Hasil dari perhitungan menunjukkan bahwa perkiraan keuntungan (benefit) pada tahun ke-15 dari pelaksanaan RR-02 adalah sebesar Rp 72,56 Milyar. Jumlah tersebut diperoleh dari penghematan Biaya Operasi Kendaraan (BOK) sebesar Rp 53,28 Milyar, penghematan terhadap tundaan sebesar Rp 14,34 Milyar dan penghematan terhadap kecelakaan sebesar Rp 4,94 Milyar. Dari segi benefit, pelaksanaan RR-02 dapat dihitung secara ekonomi menguntungkan untuk dilaksanakan. Sebaliknya apabila tidak dilakukan penyesuaian kontrak dan pendekatan new normal maka diasumsikan akan terjadi kegagalan penyelesaian kontrak yang menyebabkan tidak ada kepastian pengembalian waktu nilai manfaat. Tertundanya pencapaian nilai manfaat dan tertundanya pekerjaan akan menambah beban pembiayaan anggaran, penyelesaian pekerjaan dan pemeliharaan untuk mendapatkan tingkat layanan yang optimal pada proyek infrastruktur transportasi terdampak bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi.

Pelaksanaan proyek RR-02 masih memenuhi kaidah yang diharapkan berdasarkan hasil analisis kelayakan ekonomi. Dilihat dari sisi finansial yang ditinjau pada kriteria penilaian kelayakan dengan metode Benefit Cost Ratio dihasilkan sebesar 2,69 > 1 sedangkan Internal Rate of Return (IRR) yang dihasilkan sebesar 34,69%, maka dapat dinyatakan bahwa perubahan dan penyesuaian kontrak RR-02 masih layak untuk dilaksanakan. Dilihat dari hasil Analisa Keuntungan dan Analisa Kelayakan Ekonomi, penyesuaian kontrak RR-02 tetap dapat dilaksanakan sesuai rencana penyelesaian RR-02 dengan berbagai penyesuaian akibat COVID-19.

 

Pengukuran Tingkat Kepuasan Masyarakat

Kebijakan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di Palu menjadi tanggung jawab pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang terkena bencana. Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di bidang strategis dan aset nasional dilakukan langsung oleh pemerintah pusat. Salah satunya adalah rehabilitasi dan rekonstruksi jalan nasional dan jalan strategis lainnya yang dilakukan oleh Ditjen Bina Marga dengan didanai oleh Bank Dunia. Pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak dan pengguna lainnya. Kebutuhan tersebut dapat diukur dengan pengukuran tingkat kepuasan masyarakat terhadap proses dan hasil penyelesaian pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pengukuran tingkat kepentingan dan kepuasan masyarakat terhadap proyek RR-02 dilakukan dengan metode IPA. Data dikumpulkan dari 200 kuisoner dan diketahui profil responden sebesar 47% adalah laki-laki dan sebesar 53% adalah perempuan. Ditinjau dari segi usia responden didominasi oleh kelompok usia 36–45 tahun dengan penghasilan sebagian besar 2,5-5,0 juta. Jenis pekerjaan responden sebagai pegawai swasta menempati posisi terbanyak. Hasil data kuisoner telah diuji reliabilitas menggunakan cronbach's alpha yang diperoleh nilai reliabilitas kepentingan sebesar 0,825 dan untuk statistik reliabilitas kinerja sebesar 0,915. Hal ini menunjukan bahwa kedua instrumen tersebut dapat diandalkan sebagai instrumen pengujian dengan metode IPA.

IPA dilakukan untuk mengetahui tingkat kepentingan setiap atribut kualitas pelaksanaan proyek RR-02 berdasarkan persepsi masyarakat akan pentingnya atribut pelaksanaan. Tingkat kepentingan dan atribut kinerja proyek-002 diperoleh data statistik deskriptif dari seluruh responden di wilayah studi yang dapat dilihat pada Tabel 4. Nilai I adalah kepentingan, P adalah kinerja dan G adalah kesenjangan antara kepentingan dan kinerja.

Hasil survei terhadap responden di wilayah rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana Palu diperoleh nilai rata-rata tingkat kepuasan rangkaian rehabilitasi dan rekonstruksi. Dari nilai tersebut diketahui indikator yang memiliki tingkat kepentingan tertinggi menurut responden adalah Penyampaian informasi dan sosialisasi tentang program rehabilitasi dan rekonstruksi kepada masyarakat sebesar 4,62. Sedangkan indikator yang memiliki tingkat kepuasan tertinggi adalah Kebijakan dan peraturan tentang pengendalian COVID-19 di lokasi pekerjaan sebesar 4,35.

Apabila dilihat dari kesenjangan antara nilai kepentingan dan kepuasan, ada dua indikator yang melebihi harapan masyarakat, yaitu Kebijakan dan peraturan tentang pengendalian COVID-19 di lokasi pekerjaan dan Sosialisasi pengendalian COVID-19 di sekitar lokasi pekerjaan. Namun ditemukan atribut lainnya yang memiliki nilai minus yang berarti indikator-indikator tersebut belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Nilai gap tertinggi adalah Penyampaian informasi dan sosialisasi tentang program rehabilitasi dan rekonstruksi kepada masyarakat sebesar -0,95. Indikator kinerja tersebut dinilai masih jauh di bawah nilai yang diharapkan masyarakat.

Matriks IPA indikator kinerja rehabilitasi dan rekonstruksi dibentuk dengan nilai rata-rata kepentingan sebagai sumbu X dan nilai rata-rata tingkat kinerja sebagai sumbu Y, sesuai tabel 4. Berdasarkan matriks tersebut terdapat indikator yang nilai kepentingannya berada di atas sumbu Y, termasuk dalam kategori sangat penting (termasuk dalam kuadran I dan II). Pada gambar 4 dapat dilihat matriks IPA tersebut.

Berdasarkan matriks IPA pada gambar 4 dapat dilihat bahwa pada pekerjaan rekonstruksi dan rehabilitasi terdapat empat indikator pada kuadran I (bekerja baik dan dapat dilanjutkan), lima indikator pada kuadran II, tiga indikator pada kuadran III, dan dua indikator pada kuadran IV. Indikator pada kuadran IV perlu mendapat perhatian lebih, yaitu Penyampaian informasi dan sosialisasi tentang program rehabilitasi dan rekonstruksi kepada masyarakat serta atribut Kelengkapan jalan berupa rambu, marka dan lampu penerangan jalan.

 

KESIMPULAN

Pendekatan penyesuaian new-normal dengan pemanfaatan DM dalam optimasi proyek rehabilitasi dan rekonstruksi di masa pandemi COVID-19 dapat memberikan alternatif solusi. Melalui prediksi dan optimasi pemanfaatan DM, produktivitas kinerja meningkat sebesar 53,04% pada masa new-normal dibandingkan pada masa pandemi. Ditinjau dari hasil analisis ekonomi terhadap kemungkinan penyesuaian kontrak dengan penyesuaian kondisi new-normal menunjukan nilai BCR dan eIRR lebih baik dibandingkan dengan tanpa melakukan penyesuaian.

Tingkat kepuasan masyarakat menurut hasil IPA diperoleh sebesar 3,84 yang berarti hampir memenuhi kategori kepuasan rangkaian rehabilitasi dan rekonstruksi. Kepuasan masyarakat terlihat pada penerapan protokol COVID-19 dan kondisi jembatan serta jembatan setelah pelaksanaan RR-02 selesai. Namun, penyampaian informasi dan sosialisasi tentang program rehabilitasi dan rekonstruksi kepada masyarakat serta kelengkapan jalan berupa rambu, marka dan lampu penerangan jalan masih perlu ditingkatkan agar kepuasan masyarakat semakin terpenuhi.

 

Sumber : BINEKA, Vol. 3 Edisi April 2022.