Artikel

Beranda Artikel ASBUTON: ANTARA KENYATAAN, HARAPAN, DAN  TANTANGAN
Beranda Artikel ASBUTON: ANTARA KENYATAAN, HARAPAN, DAN  TANTANGAN

ASBUTON: ANTARA KENYATAAN, HARAPAN, DAN  TANTANGAN

  •  23 Feb 2026
  • Artikel/Artikel
  • 76 viewed
ASBUTON: ANTARA KENYATAAN, HARAPAN, DAN  TANTANGAN
Foto: ASBUTON: ANTARA KENYATAAN, HARAPAN, DAN  TANTANGAN
Dr. Madi Hermadi, M.M
Balai Bahan dan Perkerasan Jalan

Sudah lebih dari seabad sejak Asbuton atau aspal alam dari Pulau Buton ditemukan oleh seorang geolog asal Belanda W.H. Hetzel, pada tahun 1924. Sayangnya, hingga kini pemanfaatan aspal alam tersebut masih belum menggembirakan. Dalam beberapa tahun terakhir, realisasi penggunaan Asbuton di jalan nasional memang sempat menunjukkan tren peningkatan, terutama pada periode tahun 2007 hingga 2015. Namun, sejak tahun 2015 hingga 2024, realisasinya cenderung stagnan di kisaran 58.000 ton Asbuton olahan (Gambar 1) per tahun. Jika dihitung berdasarkan kandungan bitumen (aspal) di dalamnya, jumlah itu setara dengan 14.000 ton.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia yang dikompilasi oleh PT Pertamina, penggunaan aspal minyak (aspal pen 60 dan aspal modifikasi hasil penyulingan minyak bumi) secara nasional untuk perkerasan jalan nasional dan daerah mencapai sekitar 1,1 juta ton per tahun. Pengecualian terjadi pada tahun 2021 dan 2022, ketika angkanya turun drastis akibat pandemi Covid-19. Dari total penggunaan tersebut, sekitar 800 ribu ton masih harus diimpor, sementara hanya sekitar 200 ribu ton yang dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri yang dipasok oleh PT. Pertamina (Gambar 2).


Jika dibandingkan dengan penggunaan aspal minyak untuk perkerasan jalan secara nasional (keseluruhan jalan nasional dan daerah), penggunaan Asbuton olahan tahunan dengan bitumen masih sangat kecil. Dari total penggunaan, hanya sekitar 14.000 ton atau setara 1,27% saja. Padahal menurut data dari ASPABI (Aliansi Pengembang Aspal Buton Indonesia) kapasitas produksi Asbuton olahan, yang terdiridari Asbuton butir, Asbuton pracampur, Asbuton murni dan CPHMA (Cold Paving Hot Mix Asbuton atau Asbuton Campuran Panas Hampar Dingin) mencapai 817 ribu ton. Jika dihitung berdasarkan kandungan bitumen, kapasitasnya setara dengan 221 ribu ton aspal (Tabel 1). Artinya, tingkat pemanfaatan bitumen Asbuton olahan baru sekitar 6,33% atau jauh di bawah potensinya.

Melihat rendahnya tingkat pemanfaatan bitumen Asbuton, sebagai bangsa yang memiliki sumber daya alam Asbuton tentu sangat berharap pemanfaatan dapat ditingkatkan hingga mencapai kapasitas produksi. Apalagi, Indonesia memili Cadangan Asbuton yang melimpah dan berpotensi menjadi penopang penting bagin ekonomi, ketahanan nasional, lingkungan, dan pembangunan daerah. Beberapa alasan yang 
dapat menguatkan potensi Asbuton, diantaranya:
1. Mengurangi Ketergantungan Impor Aspal Minyak (Aspal Pen 60).
Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan aspal dari luar negeri, seperti Singapura, Iran, Venezuela dan lainnya. Padahal, Indonesia memiliki cadangan aspal alam terbesar di dunia, yakni Asbuton yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan memaksimalkan penggunaan Asbuton, ketahanan energi nasional bisa ikut diperkuat. Pasalnya, beberapa teknologi Asbuton tidak membutuhkan pemanasan tinggi berbasis energi fosil. Contohnya, LPMA (Lapis Penetrasi Makadam Asbuton) dan Butur Seal yang justru bisa diaplikasikan secara dingin, sehingga lebih efisien dan ramah lingkungan.

2. Mendorong Kemandirian Nasional.
Pemanfaatan Asbuton adalah wujud nyata kemandirian bangsa dalam membangun infrastruktur jalan. Langkah ini sejalan dengan program pemerintah Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) yang mendorong pemakaian produk lokal untuk Pembangunan nasional.

3. Potensi Ekonomi Lokal dan Pemerataan Pembangunan.
Asbuton berasal dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, sebuah daerah yang secara perekonomiannya masih perlu banyak dorongan. Jika pemanfaatannya dimaksimalkan, Asbuton bisa membuka banyak lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan daerah, serta menggerakkan industri pengolahan terutama di kawasan timur Indonesia.

4. Ketersediaan Sumber Daya yang Melimpah.
Cadangan Asbuton diperkirakan mencapai 663 juta ton, jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan aspal nasional hingga seratus tahun ke depan. Potensi sebesar ini menjadikan Asbuton sebagai aset strategis nasional yang hingga kini masih belum dimanfaatkan secara maksimal.

5. Potensi Efisiensi Biaya dalam Jangka Panjang.
Saat ini biaya pengolahan Asbuton memang masih relatif tinggi. Namun, jika skala produksinya diperluas dan teknologi terus ditingkatkan, biaya bisa menjadi jauh lebih efisien dibandingkan impor aspal yang berlangsung terus menerus. Selain itu, penggunaan Asbuton juga dapat menekan biaya logistik dan memperpanjang umur jalan. Sebagai bahan lokal dengan kualitas tinggi, Asbuton membuat jalan lebih awet sehingga frekuensi perbaikan bisa berkurang.

6. Mendukung Inovasi dan Teknologi Lokal.
Pengembangan Asbuton bukan hanya soal kemandirian bangsa, tetapi juga peluang besar untuk mendorong inovasi. Pemanfataan Asbuton bisa memacu riset material, rekayasa perkerasan jalan, hingga teknologi konstruksi yang berbasis pada sumber daya dalam negeri.
Menariknya, beberapa negara lain sudah lebih dulu mengembangkan teknologi Asbuton. Seperti China, mengembangkan Asbuton pracampur, sementara Jepang menggunakan lapis Gussaphalt Asbuton untuk di atas dek baja jembatan.

7. Lebih Ramah Lingkungan.
Asbuton adalah aspal alam yang proses produksinya berpotensi menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan proses produksi aspal minyak. Terutama Asbuton butir yang bisa menggantikan 50% aspal minyak pada campuran beraspal panas, bahkan menggantikan 100% aspal minyak pada CPHMA, LPMA, dan Butur Seal. Dengan pengolahan yang tepat, Asbuton bukan hanya mendukung Pembangunan infrastruktur, tetapi juga pembangunan berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan.

Harapan besar terhadap pemanfaatan Asbuton secara maksimal bukan sekedar soal menggunakan produk lokal. Lebih dari itu, Asbuton menyangkut visi jangka panjang untuk membangun Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan berkelanjutan dalam sektor infrastruktur.
Namun, upaya ini tetap harus diiringi dengan peningkatan kualitas, inovasi teknologi, dan dukungan kebijakan yang konsisten. Tantangan yang dihadapi pun tidak sederhana seperti membalikan telapak tangan melainkan banyak tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Tantangan tersebut ada yang berlaku secara umum untuk seluruh produk Asbuton olahan dan ada juga yang spesifik terhadap Asbuton jenis tertentu.
Sampai saat ini, sudah terdapat lima jenis produk Asbuton olahan yang beredar di pasaran dan masing-masing dilengkapi dengan standar spesifikasi dan pedoman penggunaannya. Kelima produk tersebut adalah Asbuton Butir B 5/20, Asbuton Butir B 50/30, Asbuton Pracampur, Asbuton Murni dan CPHMA. Informasi singkat mengenai penggunaan tiap produk dapat dilihat pada Tabel 2.

Tantangan utama dalam meningkatkan pemanfaatan produk Asbuton olahan adalah ketersediaan pasar, yang sangat erat kaitannya dengan ketersediaan pekerjaan atau proyek jalan. Data menunjukkan total panjang jalan di Indonesia sekitar 507.426 km yang terdiri dari jalan nasional sekitar 47.817 km (8,75%), jalan provinsi sekitar 54.633 km (9,99%), serta jalan kabupaten dan kota sekitar 444.276 km (81,26%). Dari angka tersebut terlihat jelas bahwa pasar terbesar bagi Asbuton
olahan sebenarnya ada pada jalan kabupaten/kota. Permasalahannya, bagaimana mengakselerasi pemerintah daerah dan daerah lainnya untuk berpihak pada penggunaan Asbuton sebagai solusi dalam pembangunan maupun perbaikan jalan.


Dilihat dari kelas beban lalu lintas jalan, jalan kabupaten dan kota mayoritas jalan dengan beban lalu lintas 4-10 juta ESALs dan di bawah 4 Juta ESALs. Untuk jalan tersebut Asbuton olahan jenis Asbuton murni dan Asbuton pracampur tidak sesuai. Alasannya, Asbuton tersebut setara aspal modifikasi kelas kinerja PG 70 – PG 76, yang menurut Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2018 Revisi 2 untuk jalan dengan lalu lintas berat (di atas 10 juta ESALs) dan dengan harga yang lebih mahal dari perkerasan jalan untuk jalan dengan kelas di bawah 10 juta ESALs. Jenis Asbuton olahan yang sesuai dengan jalan kabupaten adalah Asbuton Butir B 5/20 (Gambar 4), Asbuton Butir B 50/30 (Gambar 4) dan CPHMA (Gambar 5).
Asbuton Butir B 5/20 hanya digunakan sekitar 3% dalam campuran beraspal atau substitusi aspal 10%, dan masih memerlukan 90% aspal pen 60. Sementara, Asbuton Butir B 50/30 penggunaan 10% dalam campuran beraspal (substitusi aspal 50%) dan masih memerlukan 50% aspal pen 60. Namun, penggunaannya perlu tambahan alat feeder system (Gambar 6) di Unit Pencampur Aspal (Asphalt Mixing Plant, AMP) dengan biaya investasi sekitar Rp300 - Rp500 juta. Daerah yang tersedia Unit Pencampur Aspal dan sudah memiliki feeder system di Pulau Sulawesi, Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah.
Dengan demikian, meski substitusi aspal minyak cukup tinggi namun penggunaan Asbuton Butir B 50/30 di daerah lainnya masih terkendala pada keharusan AMP berinvestasi untuk menambah feeder system.
   
Penggunaan CPHMA di jalan kabupaten dengan lalu lintas di bawah 4 juta ESALs efektif terutama di daerah yang terbatas pada akses AMP, misalnya di daerah terpencil atau pulau-pulau kecil yang jauh dari AMP. Di daerah yang tersedia AMP, penggunaan Campuran Beraspal Panas Asbuton Butir B 50/30 biasanya lebih disarankan karena pelaksanaan secara panas selain lebih stabil juga umumnya lebih murah dari CPHMA yang pelaksanaannya secara dingin memerlukan bahan tambah pelarut atau pelunak. Meski begitu, ada beberapa produsen yang mampu memproduksi CPHMA secara efisien sehingga mampu memberikan harga yang sama dengan campuran beraspal panas aspal minyak biasa.
Keunggulan CPHMA lainnya adalah substitusi aspal minyak 100%. Artinya, penerapan CPHMA sama sekali tidak memerlukan aspal minyak. Dengan kata lain, untuk jalan daerah dengan lalu lintas di bawah 4 juta ESALs penggunaan Asbuton CPHMA tidak bergantung pada keberadaan aspal minyak pen 60.
Berbeda dengan CPHMA, Asbuton Murni dan Asbuton Pracampur memiliki karakteristik bitumen setara dengan aspal modifikasi PG 70 atau PG 76. Produk ini sesuai untuk jalan dengan lalu lintas berat atau dengan beban lalu lintas di atas 10 juta ESALs, seperti jalan nasional lintas utama (Pantura Jawa, Jalintim Sumatera, dll), jalan bebas hambatan (jalan Tol), serta jalan dengan lalu lintas berat lainnya.
Kendala dari penerapan Asbuton olahan ini adalah adanya pesaing yaitu jalan dengan beton semen (perkerasan kaku) atau jalan dengan aspal modifikasi polimer sintetis (Polymer Modified Asphalt, PMB). Kendala lainnya adalah pada jalan nasional non Tol, jalan dengan lalu lintas berat di atas 10 juta ESALs perkiraan secara kasar jumlahnya sedikit yaitu hanya sekitar 10% sampai 15% saja dari jalan nasional non tol. Hal ini dapat menyebabkan ketersediaan Asbuton Murni dan Asbuton Pracampur melebihi kebutuhan aspal untuk jalan tersebut. Sebagai ilustrasi, jika jalan nasional non tol hanya sekitar 10% dari seluruh jalan di Indonesia dengan kebutuhan aspal lebih tinggi dari proporsi jalannya misalnya hingga sekitar 35% dari kebutuhan aspal nasional, maka kebutuhan aspal untuk lalu lintas berat non Tol adalah maksimum 15% dari 35% dari kebutuhan aspal nasional 1.1 juta ton yaitu 57.750 ton. Ini lebih sedikit dari kapasitas produksi kedua jenis Asbuton olahan tersebut.
Asbuton murni sebenarnya dapat digunakan juga pada kelas di bawahnya (4-10 juta ESALs) karena dapat mensubstitusi aspal dari minyak bumi sebanyak 100%. Namun, konsekuensinya biaya konstruksi jalan menjadi lebih mahal daripada menggunakan aspal minyak atau Asbuton butir. Secara kualitas jalan memang meningkat juga menjadi lebih tinggi, namun belum ada hasil kajian apakah peningkatan kualitas ini sepadan dengan peningkatan biaya.
Dilihat dari kinerja dan harga, Asbuton olahan, Asbuton murni (Gambar 7) dan pasar Asbuton pracampur (Gambar 8) yang keduanya setara aspal minyak modifikasi PG 70 – PG 76, memiliki pasar yang sama yaitu jalan dengan lalu lintas berat. Perbedaan terlihat pada, Asbuton murni memiliki kelebihan yaitu dapat mesubstitusi aspal minyak sampai 100%, sedangkan Asbuton pracampur mensubstitusi aspal minyak maksimum 10% atau 90% masih tergantung pada keberadaan aspal minyak.
Permasalahan utama Asbuton murni dan Asbuton pracampur adalah tidak sebandingnya kapasitas produksi dengan proyek jalan lalu lintas berat. Solusi yang mungkin dilakukan adalah menekan harga kedua jenis Asbuton olahan tersebut hingga setara dengan harga aspal minyak pen 60. Dengan begitu, Asbuton dapat digunakan pada jalan dengan beban lalu lintas di bawah 10 juta ESAls.
Tantangan ini mendorong produsen untuk terus berinovasi dan mencari cara agar proses produksinya lebih efektif dan efisien. Beberapa perusahaan, baik Asbuton Murni maupun Asbuton Pracampur, sudah menyatakan mampu memproduksi jenis Asbuton tersebut dengan harga setara aspal minyak pen 60. Salah satu produsen Asbuton Pracampur sudah mulai berproduksi, sedangkan produsen lainnya baik Asbuton Murni maupun Asbuton Pracampur ada yang sedang mendirikan pabrik, dan ada pula yang masih dalam mencari investor.