Home Logo

ID EN

KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN JALAN DALAM ERA TEKNOLOGI 4.0


 18 April 2020 |   Artikel/Artikel |   129

KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN JALAN DALAM ERA TEKNOLOGI 4.0
Foto: KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN JALAN DALAM ERA TEKNOLOGI 4.0

Penetapan Geodatabase Ditjen Bina Marga

Dalam rangka mewujudkan Visium PUPR Tahun 2030, maka Ditjen Bina Marga perlu melakukan inovasi dalam penyelenggaran jalan khususnya terkait data. Era teknologi 4.0 saat ini menggunakan data digital tidak hanya dalam volume yang sangat besar, melainkan sangat banyak jenis, dan sangat dinamis yang dikenal sebagai Big Data. Untuk itu, diperlukan pengelolaan data dengan cara memanfaatkan Teknologi Big Data sebagai media penyimpanan data dengan ruang yang tidak terbatas, serta kemampuan untuk mengakomodasi dan memproses berbagai jenis data dengan sangat cepat merupakan hal yang penting. Transaksi, interaksi, dan observasi teknologi big data menggunakan jaringan internet, jaringan komunikasi, maupun jaringan satelit. Teknologi big data digunakan untuk mempermudah dalam pemecahan suatu masalah yang memiliki karakteristik 5V; Volume (jumlah data yang besar), Velocity (data yang dinamis), Variety (data yang beragam jenis), Veracity (data yang berkualitas), dan Value (data mampu menjadi nilai).

Indonesia menerapkan Kebijakan Satu Peta yang mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 9 tahun 2016 dan Kebijakan Satu Data yang mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 sebagai salah satu bentuk teknologi big data. Kebijakan satu peta dan satu data menggunakan prinsip data terbuka dalam merilis data sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan data publik bagi masyarakat. Data yang terbuka adalah data yang dapat digunakan secara bebas, dimanfaatkan, dan didistribusikan kembali oleh siapapun tanpa syarat, kecuali dengan mengutip sumber dan pemilik data. Mengacu pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, Ditjen Bina Marga bertugas untuk mempublikasikan informasi terkait jaringan jalan kepada masyarakat. Informasi tersebut dapat diakses oleh masyarakat secara mudah melalui website resmi Ditjen Bina Marga yaitu http://binamarga.pu.go.id/. Melalui website ini masyarakat dapat melihat informasi kondisi jalan nasional yang mutakhir. Selain itu, website tersebut terkoneksi dengan layanan informasi jalan lainnya, seperti pelayanan perizinan jalan bebas hambatan, pelayanan informasi lahan jalan tol, pelayanan informasi pemantauan proyek, dan pelayanan informasi pemantauan proyek.

Gambar 1. Informasi publik Peta Kondisi Jalan Nasional melalui website Ditjen Bina Marga

Pemanfaatan Teknologi 4.0 pada Ditjen Bina Marga

Pemanfaatan teknologi, rekayasa, dan teknik pengelolaan yang digunakan dalam pengendalian dan pemrosesan informasi serta penggunaannya yang dikenal dengan Information Communication Technology (ICT) memiliki peranan penting dalam bidang pembangunan infrastruktur. Dalam mewujudkan ICT, Ditjen Bina Marga menerapkan metode SIDLAKOM (Survey Investigation, Design, Land Acquisition, Construction, Operation and Maintenance). SIDLACOM sebagai metode manajemen konstruksi mengenai perencanaan konstruksi (Survey Investigation and Design), pengadaan tanah (Land Acquisition), pekerjaan konstruksi (Construction), serta operasi dan pemeliharaan (Operation and Maintenance) dalam rangka meningkatkan tertib penyelenggaraan pembangunan infrastruktur yang efektif dan efisien. Beberapa bentuk teknologi dalam pelaksanaan SIDLACOM di Direktorat Jenderal Bina Marga sebagai berikut :

  1. Aplikasi Jalan Kita (JAKI) merupakan sebuah aplikasi yang berguna untuk memfasilitasi partisipasi masyarakat pengguna jalan dalam memberikan informasi terkait kondisi jalan dan jembatan di Indonesia.
  2. Aplikasi In-SLOPE merupakan bagian dari sistem informasi lereng sebagai alat bantu surveyor dalam melakukan inventarisasi data lereng dan inspeksi lereng di sepanjang jalan nasional Indonesia.
  3. Aplikasi Invi J merupakan bagian dari Sistem Informasi Manajemen Jembatan Terpadu yang bertujuan untuk inspeksi jembatan dengan melakukan pengecekan kondisi pada jembatan dengan memadukan metode pemeriksaan cara visual dan instrumentasi menggunakan penilaian kondisi dengan vibrasi.
  4. Teknologi WIM-Bridge merupakan sebuah teknologi pengukuran beban kendaran yang optimal dengan durabilitas tinggi menggunakan sensor WIM (Weigh in Motion). Instrumen sensor dipasang pada jembatan digunakan untuk mengukur respon elemen tersebut terhadap beban lalu lintas yang dikonversi menjadi besaran beban lalu lintas itu sendiri. Berdasarkan teknologi ini Ditjen Bina Marga dapat memantau kendaraan ODOL (Over Dimension Over Load), seperti pada Gambar 12 berdasarkan analisa hampir 40% kendaraan overload melintasi jembatan pada kisaran tanggal 1 – 15 September 2017.
  5. Aplikasi SINDILA (Sistem Informasi Dini Lalu Lintas) merupakan perangkat yang dapat memberikan informasi kemacetan kepada pengguna jalan secara langsung. Sistem SINDILA terdiri dari sensor alat penghitung volume lalu lintas, software penganalisa kinerja lalu lintas, dan Variable Message Sign (VMS) dengan cara kerja menggunakan sensor yang menghitung volume lalu lintas melalui kamera.
  6. Aplikasi SHMS (Structural Health Monitoring System) yang berguna untuk memantau jembatan dengan mengumpulkan data dari sensor – sensor yang terpasang. Dengan teknologi ini apabila terjadi gempa atau tertabraknya pilar jembatan dapat diketahui kondisi jembatan secara real time yang akan membantu dalam pengambilan keputusan dalam penanganan.
  7. Aplikasi IRMS (Indonesia Road Management System) merupakan alat bantu dalam pelaksanaan asset management jalan dengan mengelola data inventaris, historis, dan kondisi jalan dan jembatan, data blackspot, serta sebagai decision support system untuk perencanaan dan pemrograman jalan, jembatan, dan keselamatan jalan.
  8. Building Information Modelling (BIM)  merupakan representasi  digital dari karakteristik fisik bangunan dimana didalamnya terkandung semua  informasi mengenai  elemen – elemen bangunan tersebut yang digunakan sebagai basis pengambilan keputusan dalam kurun waktu siklus waktu bangunan mulai hingga demolisi. BIM dapat di adaptasikan dalam siklus proyek untuk mendukung upaya mitigasi resiko yaitu tidak tercapainya sasaran kinerja proyek.

Sumber :

Ir. Sugiyartanto, M.T.

Direktur Jenderal Bina Marga

Bahan Makalah Pada Sidang Pleno Konferensi Nasional Teknik Jalan Ke-10 (KNTJ-10)

Jakarta, 5 November 2019