Artikel

Beranda Artikel MENILIK GEOLOGI REGIONAL SULUT DAN PEMBANGUNAN JALAN TOL MANADO – BITUNG DARI SUDUT PANDANG GEOLOGIST
Beranda Artikel MENILIK GEOLOGI REGIONAL SULUT DAN PEMBANGUNAN JALAN TOL MANADO – BITUNG DARI SUDUT PANDANG GEOLOGIST

MENILIK GEOLOGI REGIONAL SULUT DAN PEMBANGUNAN JALAN TOL MANADO – BITUNG DARI SUDUT PANDANG GEOLOGIST

  •  13 Mar 2026
  • Artikel/Artikel
  • 1714 viewed
MENILIK GEOLOGI REGIONAL SULUT DAN PEMBANGUNAN JALAN TOL MANADO – BITUNG  DARI SUDUT PANDANG GEOLOGIST
Foto: MENILIK GEOLOGI REGIONAL SULUT DAN PEMBANGUNAN JALAN TOL MANADO – BITUNG DARI SUDUT PANDANG GEOLOGIST
Oleh:  Eka Dhamayanti
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Timur – Bali

Kerusakan infrastruktur jalan sering dikaitkan dengan rendahnya kualitas material konstruksi, properti tanah, kualitas SDM Konstruksi maupun tingginya volume kendaraan. Namun, faktor geologi   sering   diabaikan,   padahal   Indonesia berada  di  sabuk  vulkanis  dengan  risiko  geologi tinggi. Kegagalan konstruksi akibat terabaikannya kondisi geologi bukanlah kasus baru di Indonesia. Kasus  Hambalang  misalnya,  selain  akibat korupsi, juga dipicu amblesan tanah yang memicu Lapangan Indoor dan Power House ambruk. Berdasarkan kajian tim audit teknis dari segi geologi dan geoteknik menunjukkan bahwa Hambalang termasuk dalam zona merah yang tidak boleh dihuni. Contoh lainnya, Jalan Tanjung Redeb di Kalimantan Timur yang terus ambles, menyebabkan  biaya  perbaikan  miliaran  rupiah tiap tahun.

Belajar dari kasus-kasus tersebut, peran ilmu geologi lebih diperhatikan. Menteri PUPR, Bapak Basuki  Hadimuljono,  menyatakan  para  ahli geologi punya posisi strategis dalam pembangunan infrastruktur karena ikut menentukan keselamatan dalam pembangunan infrastruktur dan dapat memberikan panduan bukan hanya sebagai pendukung semata.

Para ahli geologi berperan penting untuk melakukan identifikasi dan analisis risiko, mitigasi, manajemen risiko serta komunikasi dengan stakeholder sehingga kegagalan konstruksi dapat diminimalisir.

Saat ini Pemerintah Indonesia telah berhasil membangun jalan tol sepanjang 2.816 Km yang terdiri dari 73 ruas tol. Jalan tol ini diharapkan mampu  mempercepat  aliran  distribusi  barang dan    jasa,   serta   meningkatkan    kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Salah satu jalan tol tersebut adalah Jalan Tol Manado – Bitung di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang telah diresmikan   oleh   Presiden   Joko   Widodo   pada Bulan September 2020. Jalan tersebut memiliki total Panjang 39 Km dibangun dengan skema Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan   masuk   dalam   Proyek   Strategis   Nasional (PSN). Pembangunan Jalan Tol Manado – Bitung perlu memperhatikan berbagai aspek, termasuk kondisi geologi daerah setempat. Trase jalan tol ini melalui wilayah dengan potensi bahaya geologi tinggi, namun hal tersebut tidak dibahas dalam laporan studi kelayakan oleh Dinas PU Provinsi Sulawesi Utara.

Perlu adanya kajian mengenai pengaruh kondisi geologi dan variasi batuan sepanjang trase Jalan Tol Manado – Bitung terhadap konstruksi jalan tol dan potensi bahaya geologi. Adapun kajian yang dilakukan adalah dimulai dengan pemaparan karakteristik  geologi  di  Tol  Manado  –  Bitung yang selanjutnya digunakan untuk merumuskan langkah-langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak kondisi geologi dalam penyelenggaraan Jalan Tol Manado – Bitung.

 

Karakteristik Geologi Tol Manado – Bitung

Jalan tol Manado – Bitung adalah tol pertama di Pulau Sulawesi dan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Sesuai data Rapat Koordinasi Teknis Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) per Agustus 2019,  tol  sepanjang  39  Km  ini  dikelola  BUJT PT. Jasa marga Manado Bitung (Gambar 1). Tol ini diperkirakan mampu mempersingkat waktu tempuh perjalanan dari Manado ke Bitung yang semula  90  sampai  120  menit  menjadi  sekitar 30 menit serta mengurangi beban jalan arteri nasional yang semakin padat akibat pertumbuhan jumlah kendaraan dan aktivitas ekonomi.