Beranda > Penerapan Teknologi Water Cement Grounting

Berita Dibaca 209 kali
Penerapan Teknologi Water Cement Grounting

Infrastruktur jalan merupakan fasilitas transportasi darat yang vital dalam menunjang perekonomian suatu daerah. Oleh sebab itu, Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Bina Marga berusaha untuk menjaga dan meningkatkan kemantapan dari Jalan Nasional di Indonesia salah satunya adalah Ruas Pantura. Ruas Pantura yang membentang di sepanjang Utara Pulau Jawa merupakan jalan arteri primer dengan kondisi lalu lintas cenderung overloading dan menjadi jalur utama pendistribusian logistic di Indonesia sehingga kerusakan pada ruas jalan tersebut dapat mengakibatkan terganggunya distribusi barang/jasa dan kerap menjadi berita viral baik di media cetak maupun media online.

Kerusakan jalan yang terjadi secara continue pada ruas Jalan Tuban-Babat-Lamongan-Gresik selain diakibatkan oleh kendaraan overloading dan overdimension juga disebabkan oleh derajat ekspansif pada subgrade tanah eksisting yang kritis, sehingga memiliki kembangsusut yang cukup tinggi. Tanah ekspansif sering menimbulkan banyak masalah kerusakan pada perkerasan jalan raya sebelum perkerasan mencapai umur rancangannya.

Pada Tahun 2020, Kementerian PUPR melalui BBPJN Jatim – Bali bekerjasama dengan para ahli dibidang geoteknik mencetuskan metode water-cement grouting untuk memperbaiki kondisi tanah dasar tanpa melakukan penggantian / pembongkaran subgrade yang dinilai paling sesuai untuk diimplementasikan di Ruas Pantura yang memiliki volume lalu lintas tinggi dan tidak dapat dilakukan penutupan jalan dalam jangka waktu yang lama. Adanya water cement grouting dengan pemasangan tiang ini diharapkan dapat memperkuat formasi laporan tanah sekaligus menjadikan lapisan tanah subgrade lebih padat dan mampu memperbesar nilai daya dukung gesernya.

Metode water cement grouting dilakukan dengan membuat lubang sedalam 2.5 m dengan diameter 1,5 inchi, kemudian water – cement disuntikkan kedalam lubang pada tekanan 5 bar (5 kg/cm2), sebaran material yang terjadi maximum radius 25.48 cm (diameter 50.96 cm). Lokasi KM yang dilakukan water cement grouting dipilih yang memiliki tingkap deformasi permanen tinggi (setempat-setempat) dengan pola zig-zag antara satu lubang dengan lubang yang lain.

Efektifivas metode water cement grouting dapat dibuktikan dengan hasil tes DCP sebelum dan sesudah dilakukannya metode ini. Sebelum dilakukan water cement grouting kondisi subgrade memiliki nilai CBR yang rendah (< 2.5 %), sedangkan hasil tes DCP pada lokasi yang sama setelah dilakukannya grouting menunjukkan peningkatan nilai CBR diatas >6%. Selain itu, secara visual di lapangan, setelah dilakukannya grouting getaran/shocking pada badan jalan ketika kendaraan besar melintas lebih teredam dibandingkan sebelum dilakukannya grouting.

Metode ini diharapkan berhasil diterapkan pada pelaksanaan Preservasi Jalan Tuban – Babat – Lamongan – Gresik pada awal tahun 2021 di Km Sby 39+650 – 41+000 yang memiliki kondisi eksisting perkerasan aspal yang rusak berat, sehingga metode ini diadaptasi kembali pada pelaksanaan paket selanjutnya yaitu Preservasi Jalan Babat – Lamongan – Gresik dengan panjang efektif perkerasan rigid 16,64 Km pada Tahun Anggara 2021 – 2023 (MYC).