Home Logo

Jembatan Progo Kranggan Saksi Bisu Sejarah di Lintas Tengah


08 Juli 2019 |   Berita/Umum |   2344

Temanggung – Proporsi perhatian pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pembangunan infrastruktur di semua jalur lintas Jawa dapat terlihat dari proyek-proyek infrastruktur yang tersebar merata di daerah. Pembangunan infrastruktur tidak lagi didominasi lintas pantai utara. Seperti di lintas tengah Jawa Tengah, tepatnya di Temanggung yang pada tanggal 21 Mei 2019 pada pukul 09.00 WIB dilaksanakan soft opening Jembatan Progo Kranggan dan Jembatan Galeh.

Kedua jembatan ini merupakan salah satu proyek yang telah selesai dikerjakan oleh PPK 2.7, Satker PJN Wilayah II Provinsi Jawa Tengah. Jembatan Progo Kranggan berada di ruas Secang – Temanggung KM MGL 18+110 sedangkan Jembatan Galeh berada di ruas Ajibarang – Secang KM MGL 33+810. Kedua jembatan merupakan satu paket proyek penggantian jembatan yang telah dilaksanakan mulai Februari 2018.
Penggantian Jembatan Progo Kranggan dan Galeh ini didanai oleh APBN TA 2018 – 2019 sebesar 19,3 miliar rupiah.

Struktur Jembatan Progo Kranggan menggunakan pondasi bore pile. Bentang jembatan rangka baja ini 60 meter dengan lebar 9 meter untuk dua lajur lalu lintas yaitu menuju Secang dan menuju kota Temanggung. Untuk Jembatan Galeh menggunakan pondasi sumuran dan lantai jembatannya dicor dengan beton. Kedua jembatan ini direncanakan umur layannya adalah 50 tahun.

                             

Sebelumnya Jembatan Progo Kranggan lama memang sudah tidak digunakan selama puluhan tahun karena kondisinya yang sudah tua dan rusak. Bahkan konstruksinya pun sudah tidak kokoh lagi mengingat jembatan ini sudah berusia 60-an tahun. Jembatan ini akhirnya rubuh setelah tergerus debit air sungai pada awal 2018.

Kepala BBPJN VII Akhmad Cahyadi (21/5) menyampaikan bahwa pengembangan infrastruktur di lintas tengah akan terus dilanjutkan “Kementerian PUPR sangat peduli dengan lintas-lintas yang ada dan akan terus ditumbuh-kembangkan. Kita masih memiliki ‘pekerjaan rumah’ yang cukup banyak. Pada tahun 2015/2016 sudah kita bangun Jembatan Sigandul di Wonosobo. Hari ini telah terbangun Jembatan Progo Kranggan dan Jembatan Galeh. Kami terus beraudiensi dengan bupati dan UPD, SKPD, setelah (proyek) ini akan ada pelebaran-pelebaran jalan, shortcut, lingkar parakan dan lain-lain. Ditjen Bina Marga siap menjalankan amanah untuk kepentingan masyarakat bersama”.

                                      

Sebagai informasi, kawasan Temanggung sejak jaman pra kemerdekaan merupakan kawasan penting bagi pergerakan perjuangan kemerdekaan. Bupati Temanggung, M. Al Khadziq meyakini Temanggung juga menjadi lalu lintas penting untuk mobilisasi dalam pertahanan dan keamanan khususnya wilayah jateng bagian tengah. Pusat pergerakan perlawanan terhadap penjajah kala itu ada di Parakan. Salah satu kecamatan di Temanggung yang berada di lereng Gunung Sindoro-Sumbing.

Salah satu tragedi perlawanan penjajah yang sangat diingat masyarakat Temanggung bahkan terjadi di rel kereta api, sebelah Jembatan Progo Kranggan. Kala itu kurang lebih 1200 orang pejuang Indonesia dibunuh di atas rel tersebut dalam Agresi Militer Belanda II di Sungai Progo. Salah satu pahlawan nasional yang gugur saat itu adalah Letjen TNI Bambang Sugeng yang pada tahun 1952-1955 pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dan sosok serta perjuangannya diabadikan dalam Monumen Bambang Sugeng.