Print

Pemerintah sedang mempersiapkan pembangunan sejumlah jalan tol untuk periode tahun 2020-2024. Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Sugiyartanto menuturkan untuk lima tahun kedepan kelanjutan pembangunan jalan tol Trans Sumatera akan menjadi prioritas, namun ruas-ruas jalan tol di pulau lain juga akan mendapat perhatian serius seperti diantaranya pembangunan tol Pontianak-Singkawang di Kalimantan Barat.

 

“Kedepan tol Pontianak-Singkawang (akan dibangun), rencana kajian pengembangannya sudah, cukup feasible karena di Singkawang juga akan ada pelabuhan besar,” ungkap Sugiyartanto usai menjadi pembicara pada Rapat Koordinasi Asosiasi Tol Indonesia (Rakor ATI) di Jakarta, Senin (29/4).

 

Dia menambahkan, selain keberadaan Pelabuhan Kijing, posisi Pontianak sebagai ibukota Kalbar yang merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dinilai sudah memenuhi persyaratan pembangunan jalan tol sepanjang 144 Km tersebut.

 

“Kalau hanya mengandalkan transportasi darat yang ada di jalan nasional sekarang terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap kegiatan di sana, jadi mahal karena waktu tempuh lama,” lanjutnya.

 

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Bina Marga juga mengungkapkan rencana pembangunan jalan tol di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB).  Kawasan yang direncanakan akan menjadi tempat penyelenggaraan perlombaan MOTOGP pada tahun 2021 tersebut, saat ini dalam persiapan pelaksanaan studi kelayakan (feasible study).

 

Sugiyartanto mengaku dirinya sudah dipanggil oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membahas rencana pembangunan tol tersebut. Pelaksanaan studi kelayakan diperkirakan akan berlangsung selama enam bulan untuk kemudian disusul pembuatan desain. Dalam desain, penetapan lokasi atau trase, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga berupaya memininalkan pembebasan lahan yang produktif.

 

“FS tidak sampai setahun, enam bulan juga selesai. Penlok yang penting kita antisipasi untuk kurangi (pembebasan) lahan yang produktif,” ucap Sugiyartanto.

 

Mengomentari pertanyaan terkait kemungkinan lokasi jalan tol Mandalika yang dekat dengan pantai, Dirjen Bina Marga mengatakan hal tersebut bukanlah sebuah kendala. Menurutnya teknik konstruksi yang ada saat ini bisa mengatasi tantangan tersebut.

 

“ Dekat pantai itu masalah pilihan konstruksi, bukan menjadi kendala, mesti dilihat nanti dari segi hasil pengujian tanah, potensi gempa, permukaan air pasang yang tinggi misalnya, lalu geser kemana, pilihan konstruksinya apa, lalu misalnya konsekuensinya biaya jadi tinggi kemudian pertanyaannya apakah layak atau tidak (secara finansial), yang penting juga ada atau tidaknya dananya,” terang Dirjen Bina Marga. (KompuBM)