Print

KULON PROGO ( BINA MARGA) - Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA), Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta akan terintegrasi dengan infrastruktur lain, seperti kereta api dan Jalan Nasional. 

Selain itu Pemerintah menargetkan tahap pertama bandara baru ini bisa beroperasi pada bulan depan (April 2019) guna melayani penerbangan internasional. Berkaitan dengan itu Underpass (UP) NYIA yang tengah dikerjakan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebagian bisa dimanfaatkan saat bandara tersebut sudah beroperasi pada bulan depan.

"Sebagai informasi, pada saat soft opening bandara April nanti, underpass kita sudah tertutup 300 meter dari total 1 km. Bagian 300 meter yang bisa digunakan sementara tersebut akan menghubungkan parkiran menuju terminal bandara. Secara persentase mungkin sudah 80% lah sudah kita tangani, " ujar Pejabat Pembuat Komitmen Pembangunan UP NYIA, M. Syidik Hidayat dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VII, ketika ditemui di lokasi, sabtu siang (23/03).

Berdasarkan denah pekerjaan, UP NYIA ini memang terletak dibawah kawasan parkiran dan terminal bandara, membentang dari barat ke timur di bawah tanah. Dibangun dengan 11 zonasi pekerjaan dengan total 38 segmen (box). Jarak 300 meter tadi ada di tiga zona prioritas,yaitu zona III (empat segmen), VI (dua segmen), dan IX (empat segmen). 

Syidik menambahkan bahwa underpass ini dibangun karena Bandara NYIA didesain diatas trase eksisting jalan nasional Pantai Selatan Jawa ruas Purworejo - Yogyakarta."Jalan kita harus tetap berfungsi itu bagaimana caranya. Jadi waktu itu ada beberapa alternatif, yang kita pilih ya dibuatkan underpass," ujarnya.

Maka sejak November tahun lalu pembangunan underpass guna mempertahankan trase Jalan Nasional serta mendukung akses NYIA dimulai. Menelan biaya sebesar Rp. 293 Milyar, UP NYIA dibangun sepanjang 1,3 km yang terdiri dari 110 meter inlet/outlet sisi barat arah Purworejo, underpass tertutup 1095 meter, dan 100 meter inlet/outlet di sisi timur arah Yogyakarta.

Lebar kedua inlet/outlet yaitu 7.85 km dengan perkerasan kaku. Sementara clearance tertutup dengan struktur box (segmen) setinggi 5,2 meter dan samping selebar 18,4 meter dengan girder melintang. Girder melintang ini  berfungsi menjadi penutup atas underpass.

Syidik mengatakan penggunaan girder sebagai penutup underpass memang tak lazim. "Namun secara struktural kita butuh itu (girder) untuk mengakomodir lebar underpass yang 18,4 meter," jelasnya.

UP NYIA di desain agar lebih lega yaitu tanpa struktur kolom atau dinding tengah agar jalur lebih banyak dan kapasitas lalin lebih tinggi. "Bayangkan 1 kilometer tertutup, sumpek yah,  kalau lurus tidak masalah tapi ini belok-belok. Dengan lebar segitu kita masuk sudah bisa kelihatan ujungnya.lebih lega lebih nyaman," kata Syidik.

Pembangunan underpass ini secara keseluruhan ditargetkan rampung pada Desember 2019. (Ian)