Follow Me

Follow Me

Who's Online 

We have 41 guests and no members online

Yogyakarta (BINA MARGA) - Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan sebagai erat kaitannya dengan tantangan kebumian. Sebuah Infrastruktur tidak selalu berdiri di lokasi dengan kondisi yang sempurna, bahkan bisa rentan terhadap gangguan dari alam.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Bina Marga, Sugiyartanto dalam Seminar Nasional Civil Engineering Day 2019, Unika Atmajaya Yogyakarta, pada Jumat (22/03).

Dihadapan ratusan Mahasiswa Teknik Sipil beserta jajaran akademik Jurusan Teknik Sipil Unika Atmajaya, Sugiyartanto memaparkan beberapa tantangan kebumian yang umum dihadapi di Indonesia, seperti gempa bumi, tanah lunak & gambut, gunung berapi, curah hujan tinggi, dan siklon. 

Ia memberi contoh kejadian gempa di Nusa Tenggara Barat kemudian tidak lama di Palu yang merenggut ribuan nyawa. "Hari kedua saya datang ke Palu,lokasi dimana terjadi likuifikasi tanah, disitu saya baru pertama melihat rumah yang tadinya berdiri bisa rata dengan tanah," ujar pria yang biasa dipanggil Sugi ini.

Kemudian masih segar diingatan masyarakat musibah tsunami di pesisir pantai Anyer, Banten. Tsunami ini disebabkan oleh letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang menyebabkan gempa vulkanis.  "Selain bangunan hancur, jalan menuju ke lokasi sempat tertutup material namun cepat kita tangani dengan alat berat," ujarnya.

Selain itu, kondisi curah hujan ditambah pergerakan awan atau siklon sangat berdampak pada infrastruktur. Lonjakan curah hujan bisa memicu titik longsor, meningkatkan debit air sungai sehingga menyebabkan jembatan putus, serta tanggul jebol. 

Dirjen Bina Marga mengatakan dalam membangun infrastruktur terdapat siklus proyek atau SIDLACOM, yaitu Survey, investigation and design (SID); land acquisition (LA); constuction (C); dan operation and maintenance(OM). Pada siklus ini, perlakuan terhadap kondisi kebumian yang bisa menyebabkan kegagalan konstruksi ditentukan di tahap Survey, Investigation, and Design.

"Sebagai contoh, hasil SID yang kita lakukan di tanah lunak pembangunan Tol Pemalang Batang menghasilkan solusi Perforated Vertikal Drain dan Vacuum Consolidations Method",katanya. Langkah tersebut dilakukan untuk menguras air di tanahsepanjang 39,2 km ruas tol yang dibangun. Air menyebabkan kondisi tanah lunak sehingga perlu dikeringkan terlebih dahulu.

Selain itu di pembangunan Tol Trans Sumatera ruas Pekanbaru - Dumai juga diterapkan teknologi Mini Piles dan load transfer platform (LTP) untuk mengakomodir tanah lunak. "Prinsipnya sama dengan pile slab. Timbunan tanah didukung pancang mini pile dengan kedalaman tertentu yang didukung LTP geogrid atau sirtu," paparnya. 

Kemudian Sugi juga mengatakan tantangan kebumian juga ada di atas permukaan tanah, seperti di lereng jalan. Sebagai contoh di area Kebun Kopi, ruas Tawaeli-Toboli,Sulawesi Tenggara. Untuk mencegah longsor tebing Bina Marga memasang erosion control mat (ECM) sepanjang 10 km di jalur yang padat dilalui masyakarat ini. Ini merupakan Mitigasi longsor menggunakan ECM terpanjang di Indonesia.

Menurut Sugiyartanto, kondisi geologi dan kebumian yang berat bukanlah penghambat pembangunan melainkan tantangan yang harus dan bisa diatasi. "Perlu pola pikir, strategi,metode kerja, seta aksi nyata yang inovatif untuk mendukung percepatan pembangunan di Indonesia," katanya. (Ian)

You are Here

Template Settings
Select color sample for all parameters
Red Green Blue Gray
Background Color
Text Color
Google Font
Body Font-size
Body Font-family
Scroll to top